Chinese-Indonesian and their dubious loyalty

My Last personal encounter with the late Wilson Kusumo

I wrote a posting on indian enterpreneurs who contribute a lot to their home-country, india, after they become so successful and rich. and I followed that news with brief comments on chinese-indonesian enterpreneurs who, instead of contributing their extra money to the needy indonesians, they send and invest their money to their “actual” homeland: singapore or China. in other words, chinese-indonesian loyalty, especially those rich conglomerates, are extremely dubious in the eyes of pribumis (indegenous indonesian).

at the time I wrote the posting, i was in Saudi Arabis for hajj and volunteering for helping indonesian hajjis there.

surprisingly, Wilson Kusumo gave a private response, which fortunately I still keep in my inbox. Below are my posting and wilson kusumo’s response:

— In ppiindia@yahoogroups.com, “A. Fatih Syuhud” wrote:
Me: Apa beda antara pengusaha/enterpreneur India dan Indo?
>
> 1. yg pertama akan ‘mengembalikan’ sebagian itu untuk negara atau
rakyat india; sedang pengusaha Indo ‘menghadiahkan’ penghasilannya
pada Singapore atau Cina.
>

Wilson Kusumo: Jangan lupa AS Pak Fatih. Saya pernah “nginap” disana selama 8 tahun dan tahu pasti berapa besar uang dari hasil perdagangan di Indonesia ditanamkan di sektor residential property oleh bos Lippo dan Sinar Mas. Dan ini baru contoh secuil saja.

Me: 2. pengusaha india merasa bangga pada nasionalisme ke-india-annya, sedang pengusaha kita merasa bangga pada ‘nasionalisme’ leluhurnya.
>

Wilson Kusumo: Tidak sepenuhnya benar juga koq Pak Fatih. Nyatanya, ada eks Presiden RI, yg notabene harus warga negara Indonesia ASLI, yg ternyata lebih memilih untuk tinggal di LUAR tanah air-nya.

Me: Ada yg mau menambah daftar ini? dan kapan kita memiliki pengusaha2 sukses yg bangga dg indonesia dan tidak ingat lagi pada leluhurnya? kenapa yg cinta tanah air dan merasa indonesia sebagai ‘tumpah darahnya’ justru hanya ‘kalangan’ pengusaha yg tak sukses?
>

Wilson Kusumo: Jangan terlalu pesimis Pak Fatih. Tidak sedikit warga negara kita dari kalangan minoritas yang terang-terangan ikut mengutuk tindakan2 tak terpuji yang dilakukan segelintir manusia bejad yang sukses di Bumi
Pertiwi ini tapi membawa lari semua kesuksesannya setelah ybs merasa sudah tidak sanggup lagi “membodoh-bodohi” kita, padahal waktu datang kepulau Jawa untuk mencari kehidupan yang lebih baik pada masa
mudanya, mereka cuma membawa seutas kolor yg melekat dibadannya. Tapi itu tidak berarti semuanya serupa. Jangan gara2 tuba setitik rusak susu sebelanga, saudaraku. Saya yakin sebuah perubahan menuju arah yang lebih baik tengah berjalan di negeri kita tercinta ini. Tapi, seperti segala hal dalam kehidupan nyata, segala perubahan butuh waktu. Yang penting, walaupun masih jauh, tetapi titik terangnya sudah mulai kelihatan. Jadi bersabarlah dan jangan terlalu pesimis, Pak Fatih.

> salam dari saudi arabia (lagi ngurusin jamaah sakit)
> Fatih

Selamat berjuang di tanah suci Pak Fatih.

Wassalam,
Wilson Kusumo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s