Azahari, Indonesia Terrorism and the Caliphate

Countries around world, including Indonesia, has been set to follow whatever the US want. Including what the raison d’etre behind any events. The US as a superpower in everything except in honesty and virtue got any tools to have the world bow under its feet.

USA has the media (print, audio, audio-visual) forces which ready to swallow whatever their administration wants them to do. hence the so called the “embedded” journalism. Now, terrorism becomes the poster boy of world media. And the perpetrators certainly are Muslims; encouraged by the teaching of their faith: Islam. No body, no country, no institution can deny, refute and reject such allegation. or else, you’ll one of the terrorist yourself. or, at least, you’ll be in the minority.

Terrorism is a fact. no doubt about it. but the cause of terrorism and the long term goal of terrorism are of much speculation with so dubious independent analysis around. Goenawan Mohamad, the founder of the best-selling Indonesian weekly magazine, TEMPO, wrote a piece which based on information from Indonesian inttelligence agency (BIN). the content is not special. just parrotting what Roshan Gunaratna, the writer of “Inside AlQaedah”, repeatedly said: that the goal of terrorism in south east asia is to establish a caliphate state in the region.

Farid Gaban–an eminent journalist in the same magazine–however, has a different opinion which is as usual, very enlightening. Both Goenawan Mohamad and Farid Gaban response are posted below in bahasa Indonesia.

Tanggapan: “Goenawan Mohamad, Azahari dan Kekhalifahan”

Oleh Farid Gaban
e: faridgaban-at-yahoo.com

Bung Radityo dan teman-teman,

Aksi teror yang membunuh banyak orang tak berdosa adalah tindakan laknat, khususnya dalam konteks politik Indonesia.

Masalahnya, kita tidak tahu persis (kecuali kita percaya polisi/BIN) siapa sebenarnya mastermind dari aksi ini.

Menurut polisi/BIN (yang juga dipercaya Goenawan Mohamad), aksi teror ini dilakukan dan didalangi oleh militan Islam dengan MOTIF: “ingin mendirikan Kekahalifahan di Asia Tenggara”.

Jika benar itu motifnya, saya menemukan gap yang besar antara aksi dengan goal akhirnya.

– Bagaimana membunuh dan melukai ratusan orang pada Bom Bali I bisa menjadi jalan mewujudkan imperium Islam Asia Tenggara?

– Bagaimana membunuh puluhan orang–sebagian besar Muslim–di depan Kedutaan Australia, di Hotel Marriott dan di Jimbaran bisa mencapai tujuan akhir itu?

– Bagaimana merusakkan ekonomi Indonesia dan menciptakan ketegangan antar-agama di sini bisa meretas jalan ke imperium itu?

– Bagaimana menciptakan ketergantungan yang lebih besar Indonesia terhadap “negeri teror” seperti Amerika dan Australia bisa mencapai tujuan itu?

– Aksi-aksi teror di Indonesia telah menjadi dalih kehadiran kembali pasukan Amerika ke Asia Tenggara (mereka pergi setelah jatuhnya Rezim Ferdinand Marcos di Filipina). Bagaimana memancing kehadiran Amerika ke kawasan ini bisa menjadi jalan menuju imperium Islam Asia Tenggara?

Radityo dan teman-teman,

“Mendirikan Kekhalifahan di Asia Tenggara” adalah sebuah motif politik. Cita-cita ke arah itu membutuhkan gerakan dan leverage politik–serta menuntut prasyarat bahwa siapapun yang menginginkannya haruslah punya infrastruktur politik dan bersifat terbuka.

Tersangka dalang bom di Indonesia versi polisi–dari Azahari, Noordin, Al Faruk hingga Hambali–tidak pernah dikenal dalam gerakan Islam di Indonesia.

Dan fakta itu saja sudah makin mengaburkan kaitan antara aksi dan motif. Bagaimana cita-cita ingin mendirikan imperium Islam Asia Tenggara bisa diwujudkan dengan hanya mengandalkan gerakan bawah tanah yang tanpa bentuk. (Sekali lagi jika kita percaya cerita versi polisi)

Kita mengenal organisasi seperti Hizbut Tahrir. Organisasi ini bercita-cita tak hanya mendirikan kekhalifahan di Asia Tenggara, tapi di seluruh dunia. Mereka menyatakan itu secara terbuka, mereka menggalang demonstrasi terbuka meski damai, mereka merekrut anggota secara terbuka melalui pengajian dan pidato akbar.

Di tengah ruwetnya situasi politik Indonesia masa kini, dan di tengah kegagalan pemerintahan sekuler dalam mengatasi soal ekonomi dan kenegaraan, gerakan Hizbut Tahrir punya peluang untuk memperluas basis dan pengaruh.

Lepas dari kita setuju atau menolak ide kekhalifahan yang dibawakannya, gerakan damai Hizbut Tahrir justru jauh lebih efektif dan makin efektif jika mereka berhasil meyakinkan banyak orang tentang busuknya pemerintahan sekuler sekarang.

Apa moral ceritanya?

Siapapun orang Islam yang ingin mewujudkan cita-cita pemerintahan Islam kini menemukan kebebasan politik mereka untuk menyuarakan secara terbuka (berbeda dengan di masa Orde Baru).

Jemaah Islamiyah (versi polisi) adalah anomali. Teror yang bermotif politik hanya muncul di negeri represif (seperti Irak sekarang, Palestina, Chehnya atau Irlandia dan Basque untuk menyebut contoh non-muslim). Di Indonesia setelah reformasi, teror bom dengan motif
Islam tidak ada gunanya.

Sebaliknya, justru di era demokrasi sekarang, organisasi seperti Hizbut Tahrir lah yang menjadi ancaman politik/sosial serius tak hanya bagi non muslim, tapi juga politisi Islam seperti PAN, PKB, bahkan PKS. (Juga bagi kaum sekuler yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal).

Juga ancaman serius bagi hegemoni Amerika di kawasan Asia Tenggara. Kehadiran kembali pangkalan Amerika di Asia Tenggara punya “bonus” lain bagi Amerika: menangkal hegemoni China yang belakangan ini menguat bersama kedigdayaan ekonominya.

Tidakkah kita bisa mengambil SPEKULASI dari sudut pandang lain:

– teror diciptakan untuk memberi label buruk kepada kata
“kekhalifahan” (sekali lagi, lepas dari apakah kita setuju atau menolak ide itu).

– teror diciptakan untuk memberi label buruk pada “bom bunuh diri” ala Irak dan Palestina (yang sekarang menjadi trend dan membuat Amerika kewalahan)

– teror diciptakan untuk memberi dalih (pretext) perbaikan hubungan militer/keamanan Indonesia-Amerika-Australia dan penguatan kembali hegemoni mereka di kawasan ini.

Harap ditangkap dengan teliti. Saya mengatakan tiga kemungkinan tadi sebagai SPEKULASI. Sama seperti hipotesis, spekulasi harus diuji.

Salah satu cara mengujinya adalah dengan melakukan verifikasi atas detil, klaim dan teori yang disodorkan polisi.

Saya juga ingin mengajak kita semua menelisik orang-orang yang dalam beberapa pekan terakhir ini muncul di video polisi sebagai pelaku teror bom dan orang-orang yang ditangkapi di berbagai daerah.

Amati mereka: siapa, bagaimana latar belakang ekonomi dan sosialnya, pernah sekolah di manakah mereka, siapa orangtuanya, jika dari pesantren mana pesantrennya?

Saya belum meneliti secara sangat seksama. Tapi, dari data yang saya kumpulkan, kesimpulan sementara: sebagian besar mereka datang dari keluarga miskin di pedesaan.

Apa artinya? Ini adalah orang-orang yang rentan secara ekonomi, sosial dan bahkan hukum. Jika benar seperti kata polisi mereka ini pelaku dan anggota komplotan, kita bisa mengambil spekulasi bahwa mereka sekadar alat.

Siapakah yang memperalat mereka? Untuk tujuan apa?

Itulah pertanyaan besarnya. Dan jawaban versi polisi: Azahari.

Kembali ke kasus yang lebih spesifik, kasus Azahari (muncul, buron dan matinya) memiliki aspek berlapis-lapis. Dan harus kita lihat secara keseluruhan.

1. Apakah Azahari sudah mati?

Kita bisa mengambil kesimpulan Azahari sudah mati. Spekulasi ini punya dasar yang kuat, karena adanya pernyataan keluarga. Meski begitu, tidak ada yang tahu persis apa yang sebenarnya terjadi di kamar mayat ketika Bani Yamin memastikan mayat kakaknya.

2. Bagaimana Azahari mati?

Benarkah dia mati dalam tembak-menembak di Batu? Atau dia mati karena eksekusi jarak dekat?

Detil ini penting: tugas polisi adalah menangkap Azahari hidup-hidup untuk bisa diadili dan mempertanggungjawabkan perbuatannya (jika dia benar salah) atau membela diri (jika tuduhan polisi hanya cerita rekaan).

Jika Azahari mati karena eksekusi, kita perlu melacak kenapa polisi melakukan itu: untuk membungkam dia supaya tidak menghadirkan cerita versi lain?

3. Benarkah Azahari mastermind dari semua teror versi polisi?

Ini pertanyaan yang lebih sulit dijawab justru karena kematian Azahari. Semua cerita tentang Azahari selama dia buron berasal dari polisi.

Walhasil: dari sudut pandang jurnalisme, ini kasus yang tak tertuntaskan. Kasus yang tidak atau belum, setidaknya sampai sekarang, bisa diverifikasi pada wartawan.

diposting 25.11.05

___________________________________________________________________

Azahari dan Indonesia
Oleh Goenawan Mohamad

Azahari dan Noordin Top masuk diam-diam dari Malaysia ke Indonesia, dan ‘membaur’ dengan orang setempat. Mereka bukan orang asing, jika ‘asing’ berarti ‘ganjil’ dan ‘tak dikenal’. Tapi mereka bukan orang sini.

Mereka merekrut orang lokal yang dilatih untuk meledakkan bom, membunuh orang secara acak, dan sejak itu Indonesia pun terjerembab. Sejak itu negeri ini, yang kita nyanyikan sebagai negeri ‘aman sentausa’, jadi tempat yang dianggap tak aman dan tak sentausa.

Tentu saja Azahari dan Noordin Top mengatakan mereka melawan Amerika Serikat dan Zionisme. Tentu saja mereka akan mengatakan jihad mereka adalah bagian dari perang global yang kini berkecamuk. Tapi pada akhirnya yang terluka bukanlah Amerika Serikat atau Israel, melainkan Indonesia — sebuah negeri yang bagi kedua orang Malaysia itu tak punya makna apa-apa.

Mereka memang bukan orang sini. Kata ‘sini’ mengimplikasikan sebuah perbatasan, antara ‘dalam’ dan ‘luar’. Harus diakui perbatasan itu tak datang dari Tuhan atau alam, melainkan dari sebuah proses politik dalam sejarah. Perbatasan itu juga tak kekal. Tapi apakah yang tak kekal tak punya arti dan tak punya kekuatannya sendiri?

Azahari dan orang sejenisnya – yang bercita-cita mendirikan sebuah kekhalifahan Islam yang mengatasi ‘negara-bangsa’ – berangkat dari semangat ‘de-lokalisasi’: melintasi lokalitas yang mereka anggap membatasi diri. Mereka tak mau bersetia kepada sebuah ‘tanah air’. Yang pasti, mereka tak mau bersetia kepada Indonesia.

Mereka berangkat bersama asumsi bahwa Islam adalah sesuatu yang universal, yang berlaku di mana saja dan kapan saja. Mereka seiring dengan dinamika abad ini, yang menerjang atau menyeberangi perbatasan nasional, dinamika yang digerakkan ilmu, teknologi, dan kapitalisme
mutakhir. ‘Hari ini, agama bersekutu dengan tele-tekno-ilmu’, kata Derrida dalam sebuah simposium di Capri di tahun 1994 – sebuah kalimat yang tetap punya gema satu dasawarsa kemudian.

Tapi pada saat yang sama, terjadi juga sebuah tabrakan. Agama, seperti yang dibawakan orang macam Azahari, mengandung kontradiksi: di satu sisi ia mengklaim dirinya universal, tapi di sisi lain, semakin ia jadi bendera identitas kelompok, semakin ia melawan sifat universalnya sendiri. Maka ketika agama jadi identitas kelompok, ‘globalisasi’ yang dibawakan oleh modal, ilmu dan teknologi pun seakan-akan jadi ancaman – meskipun sebenarnya televisi, internet, serta teknik
persenjataan dan pembunuhan, yang berasal dari ‘tele-tekno-ilmu’, adalah penopang gerak ‘de-lokalisasi’ mereka.

Dalam pemikiran agama macam ini, identitas kelompok bertaut dengan ‘de-lokalisasi’. Itu artinya agama, dalam kata-kata Derrida, ‘terlepas’ dari ‘semua tempatnya yang pas’, bahkan dari pengertian ‘tempat’ itu sendiri.

Tapi bisakah kebenaran agama, ketika diamalkan, berlangsung tanpa tempat dan terlepas dari konteks lokal apapun? Pernahkah? Khalil Abdul Karim, seorang mantan anggota gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, pernah menganalisa bahwa sejarah Islam sejak sebelum dan segera sesudah Nabi Muhammad s.a.w. tak dapat dilepaskan dari posisi politik suku Quraish di sekitar Mekah. Ia menyebut bukunya (diterjemahkan dan diterbitkan oleh LkiS Yogyakarta) Hegemoni Quraish.

Buku itu mungkin tak sepenuhnya tepat. Tapi sulit dibayangkan Islam terlepas dari keterpautan dengan yang sempit di sebuah ruang dan sebuah waktu. Khalifah Usmani yang berpusat di Turki, yang konon melintasi perbatasan ‘negara-bangsa’ itu, pada dasarnya bagian dari pengalaman dan kepentingan tahta Turki itu sendiri.

‘De-lokalisasi’ selalu mustahil: Islam yang diamalkan akan senantiasa terkait dengan sebuah petak di muka bumi. Sesuatu yang ‘bukan-global’, yang telah ada sejak beratus-ratus tahun, terus bertahan: sebuah wilayah dan sehimpun manusia yang identifikasi dirinya disebutkan
dengan nama sebuah negeri ataupun bangsa.

Itulah ‘tanah air.’ Tanah air adalah tempat seseorang terlempar. Di sana ia memilih untuk menerima posisi itu secara aktif ataupun pasif, secara bersemangat atau pasrah. Tanah air, seperti yang terjadi ketika republik ini lahir dari penjajahan, adalah sebuah ‘peristiwa’: sesuatu
yang mengguncang kehidupan dan menggerakkan hati.

Tapi tanah air juga sebuah ‘pengalaman’: sebuah proses tumbuhnya akar. Kita tak perlu mengaitkan akar itu dengan asal-usul ‘darah dan tanah’, Blut und Boden, seperti dalam nasionalisme Jerman yang sesat. Akar itu bukan sesuatu yang harus disakralkan, dan tempat kita hidup dan berasal, Heimat, bukanlah sesuatu yang suci. Tanah air terbentuk terus oleh sejarah, oleh kerja kita, dan itu sebabnya ia, dengan bekas darah dan keringat, punya arti bagi kita…

Indonesia, tanah air kita, lahir seperti itu, melalui revolusi – satu hal yang tak dialami orang Malaysia macam Azahari. Revolusi itu melibatkan rakyat banyak yang menderita di bawah penjajahan Belanda. Revolusi itu sebuah peristiwa, l’evenement dalam pengertian Badiou,
khususnya peristiwa solidaritas, dengan pengorbanan dan rasa bangga. Tapi sebagai peristiwa, revolusi selalu punya akhir, tak dapat diulangi, dan setelah itu Indonesia pun ‘terjadi’, tumbuh, dan akhirnya jadi sebuah proyek bersama. Proyek itu makin disadari sebagai sesuatu yang tak sempurna, karena menyadari keterbatasan manusia.

Itu sebabnya Indonesia sebagaimana ia dirikan di tahun 1945 adalah tanah air dengan banyak harap tapi juga cemas, dengan gairah tapi juga gentar. Naskah Proklamasi itu tak ditulis dengan cetakan yang sempurna; ada coretan dalam teks yang ditandatangani Bung Karno dan Bung Hatta. Di situlah ia berbeda dengan ‘negara Islam’ yang membawa nama sesuatu yang kekal dan tak akan salah. ‘Negara Islam’, terutama dalam impian Azahari, adalah sebuah keangkuhan kepada sejarah. Sebaliknya ‘Indonesia’: ia tak menafikan dan tak takut bahwa dirinya tak akan pernah salah, bahkan berdosa.

Itulah sebabnya demokrasi niscaya: demokrasi adalah sebuah mekanisme untuk selalu memperbaiki diri, mengurangi langkah yang keliru. Dan kita tahu, Indonesia telah berjalan panjang dan terbentur-bentur, tapi sampai hari ini bangkit lagi – juga dengan harap dan cemas.

Azahari tak memahami ini: ia dan kawan-kawannya tak punya kaitan dengan pengalaman kita, apalagi dengan sejarah revolusi Indonesia. Mereka meledakkan bom berkali-kali, merusak negeri ini berkali-kali, dan kita merasakan sakitnya.

Apa gerangan hasilnya, selain sebuah jalan ke surga yang diyakini sementara orang – sebuah firdaus yang instan, sebuah kenikmatan yang seketika, seperti banyak hal yang ditawarkan di pasar dunia yang serba tak sabar sekarang?

Mungkin Azahari dan kawan-kawannya, ketika mereka memasarkan surga yang instan, mereka tahu ‘jihad’ mereka akan gagal. Amerika akan tetap tegak dan Zionisme tak punah. Jika demikian, Azahari dan kawan-kawannya siap mati dengan harapan bisa ke sorga bagi diri
sendiri, bukan dengan harapan untuk memenangkan orang-orang yang mereka bela di muka bumi.**


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s