Lebaran di Lingkungan Muslim’s Brotherhood Bangalore

Ied
Lebaran identik dengan pulang kampung, menjenguk saudara-saudara di tanah kelahiran, dan melaksanakan kultur kunjungan ( mengunjungi saudara, teman, atau kenalan yang kita anggap lebih tua). Namun bagaimana dengan lebaran bagi para mahasiswa perantauan yang ada di luar negeri yang belum berkesempatan untuk pulang kampung? Ternyata lebaran di negeri orang juga tidak kalah seru dengan lebaran di negeri sendiri. Paling tidak itulah yang dirasakan penulis ketika merayakan idul fitri 1430 H di negeri Hindustan, India, tepatnya di kota Bangalore.

India, negeri yang mempunyai total populasi terbanyak ke-2 di dunia (survey WHO 2006), adalah suatu negeri yang mayoritas beragama Hindu ( 80.5%). Mempunyai komunitas muslim sekitar 174 juta penduduk, menjadikan Islam sebagai agama terbesar ke-2 di India, 16.4% dari jumlah total penduduk. Dengan posisinya sebagai negara terbanyak ke-2 penduduknya di dunia, menjadikan pula India sebagai negara negara dengan jumlah populasi muslim terbanyak nomor 3 setelah Indonesia dan Pakistan.

Penulis yang berdomisili di Bangalore, adalah seorang mahasiswa Bachelor jurusan Commerce di Bangalore University. Di Bangalore sendiri terdapat sekitar 20 orang WNI yang tersebar di seluruh penjuru kota. Dan beberapa dari mereka memilih untuk merayakan lebaran di tanah air. Sehingga hanya ada 2 orang mahasiswa Indonesia di Bangalore yang merayakan lebaran tahun ini tanpa pulang ke tanah air, penulis sendiri dan salah satu pengurus PPI India, Arif Riswanto yang sedang menempuh Bachelor of Computer application di Bangalore University.

Penetapan 1 syawal di india tahun ini berbeda dengan negara-negara yang lain. Ketika Arab Saudi, Yaman, Malaysia, dan juga negara kita Indonesia menetapkan 1 Ramadhan 1430 H adalah tanggal 20 Agustus 2009, majelis ulama India menetapkan awal Ramadhan adalah tanggal 21 Agustus 2009. Hal ini berpengaruh terhadap pelaksanaan Hari Raya Idul fitri. Tanggal 1 syawal 1430 H bertepatan dengan tanggal 21 September 2009. Namun beberapa mahasiswa muslim dari Indonesia, Saudi arabia, Yaman, Chad, Nigeria, dan beberapa negara lainnya di Bangalore lebih memilih untuk mengikuti ketatapan dari negara masing-masing.

Perayaan 1 Syawal dimulai dengan adanya buka bersama di rumah salah satu mahasiswa Muslim dari Chad. Buka bersama diadakan sekaligus untuk memperingati masuknya tanggal satu syawal (karena pergantian tanggal hijriah adalah pada pukul 18.30 atau bertepatan dengan magrib). Acara dihadiri oleh sekitar 40 orang dari berbagai bangsa. Namun hampir keseluruhan yang hadir berdomisili di Saudi Arabia. Hidangan yang disajikan tak lain tak bukan adalah hidangan khas Arab, seperti Ish dan ful, soup arab, dan tak lupa pula minuman caricade atau lebih dikenal dengan nama teh yaman atau teh rosella di Indonesia. Kekeluargaan sangatlah terasa diantara para tamu undangan. Persaudaraan Islam telah mampu mengikat berbagai macam bangsa yang berlainan menjadi sebuah tali persaudaraan yang erat. Berbagai tukar pendapat tentang keadaan dunia muslim pada abad ke-21 ini menjadi topik hangat antara beberapa mahasiswa. Dan dari tukar pendapat itu, bisa disimpulkan bahwa sebagai mahasiswa muslim, generasi muda untuk masa depan, kita haruslah mampu menampilkan image ummat Islam yang sebenarnya. Generasi muda Islam, tanpa memandang bangsa, warna kulit, bahasa, atau juga ras, sama-sama mempunyai kewajiban untuk membela Islam dalam hal menampilkan citra Islam yang sejati, yakni agama yang cinta damai serta menghargai perbedaan dan kemanusiaan. Seorang mahasiswa dari Yaman, Farez berpendapat bahwa keidentikan Islam dengan terorisme sebenarnya adalah sebuah kebohongan dan kesesatan yang disebarkan untuk menjatuhkan kredibilitas Islam sebagai agama perdamaian. Perang yang mengatasnamakan agama sebenarnya merupakan kamuflase dari kerakusan dan ketamakan para politikus dan penguasa semata, karena tidak ada satupun agama di dunia ini yang mengajarkan untuk saling membenci, saling membunuh dan saling berperang. Selain itu ada beberapa hal yang cukup mengejutkan penulis ketika ada seorang teman dari Afrika yang bertanya tentang Indonesia, dan dia ternyata pernah mendengar tentang salah satu presiden kita yang sekarang menjadi warga kehormatan di Jerman, bapak Bachruddin Joesoef Habiebie. Beberapa mempertanyakan alasan Joesoef Habiebie (begitu salah seorang saudara dari afrika tersebut memanggil beliau) lebih memilih tinggal di Jerman daripada di Indonesia. Penulis Cuma bisa menjawab menurut pandangan penulis saja, “ Habiebie is a good person, but I don’t know why many of our people hate him. And maybe because of that, he prefer to live in Jerman that gave him special position as the most genius people not only in Indonesia, but also in South East Asia.”

Tanggal 20 September 2009, komunitas Muslim Bangalore yang lebih memilih untuk merayakan Idul Fitri pada hari tersebut, melaksanakan shalat Ied di salah satu masjid terbesar di bangalore, Masjid Sir Bilal Haji Ismael di sebuah area bernama Frazer Town. Berbeda dengan suasana Shalat ied di tanah air yang diiringi dengan suara takbir yang bertalu-talu, suasana shalat ied di bangalore ini lebih terkesan tenang, syahdu, dan mungkin sedikit membuat rasa kantuk menyerang. Dengan hujan gerimis yang menjadikan cuaca sejuk dan sangat bersahabat, Shalat ied yang dimulakan pukul 08.00 ini dihadiri kurang lebih 150 jamaah yang sebagian besar adalah para muslim dari negara-negara timur tengah. Khatib membacakan khutbah dengan bahasa Arab yang ber-lahjah (beraksen) Yaman.

Seusai shalat, beberapa jamaah langsung terlihat berpelukan, saling bersalaman, dan tak lupa adat istiadat timur tengah, saling cium pipi sambil mengeluarkan suara khas. Sekilas bagi yang belum terbiasa melihat kebudayaan tersebut mungkin sangatlah kaget. Namun hal itu adalah budaya dan adat istiadat muslim dari seluruh wilayah middle east. Pada kesempatan ini kita pergunakan untuk lebih saling mengenal satu sama lain, berfoto bersama, dan bercengkrama satu sama lain. Kerinduan terhadap tanah air dan sanak saudara sedikit terkurangi dengan adanya saudara-saudara baru kita di sini. Kekeluargaan yang mendalam dan keramahan khas keluarga yang kita rindukan mampu tergantikan dengan rasa senasib sepenanggungan sebagai warga perantauan di negri orang.

Istilah emas di negri orang tak seindah hujan batu di negri sendiri, mungkin adalah salah satu keyakinan yang ada benarnya, namun juga ada yang kurang tepat. Benar kalau itu diartikan sebagai perwujudan dari rasa cinta kita terhadap tanah air yang telah menghidupi dan membesarkan kita, namun hal itu menjadi kurang tepat ketika kita menjadi anak bangsa yang malas dan cengeng serta membuat kita takut untuk menuntut ilmu jauh di negeri asing. Memang benar, kita berada di negeri yang bukan negeri kita, tapi yakinlah selalu, saudara kita ada dimana-mana. Sangatlah konyol kalau kita merasa tidak afdhol merayakan lebaran tanpa pulang kampung dan memaksakan diri untuk pulang ke kampung halaman. Kalau hal itu mungkin dan mudah bagi kita, maka tak ada salahnya kita melaksanakannya, tapi kalau hal itu sangat tidak mungkin dan akan menjadi beban berat manakala kita memaksakannya, maka lebih baik kita berpikir lebih dalam, makna Iedul Fitri bukan hanya sebagai waktu untuk pulang kampung menengok keluarga semata, namun perhatikanlah di sekeliling kita, banyak saudara yang ternyata belum kita kenal. Banyak keluarga baru yang mungkin kita dapatkan ketika kita memperhatikan komunitas di sekitar kita. Paling tidak itulah yang dirasakan penulis manakala mendalami makna Iedul Fitri bersama komunitas muslim di Bangalore, India. (Mukti Wibowo)

One Response

  1. Assalaamualaikum Mukti Wibowo,

    Saya baru tiba di BLR hari ini, ada tugas di ITPB dan tinggal di Savannah Hotel (www.savannahhotel.co.in) Whitefield Rd.
    1. Mau tahu tentang arah kiblat dan kemana orang di sini pergi shalat Jumat.
    2. Apa ada komunitas muslim Indonesia di sekitar tempat saya.

    Terima kasih banyak atas infonya
    -iman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s