Interventional Neuroradiologi dan Perannya saat ini

Oleh: Fritz Sumantri Usman Sr.

 

Sumber: http://majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=567

 

Abstrak:

 

Interventional neuroradiologi merupakan bidang yang relatif baru dan potensi untuk pengembangannya di negara kita masih amat sangat besar. Peran bidang tersebut dalam penanganan beberapa kasus ilmu penyakit saraf, khususnya yang disebabkan oleh kelainan pembuluh darah otak sudah mendapatkan tempat tersendiri pada saat ini. Dua hal yang sangat erat kaitannya dalam perkembangan interventional neuroradiologi adalah ketrampilan ahlinya dan penguasaan tekhnologi dari alat alat penunjangnya.

Beberapa kasus seperti stroke iskemik, aneurisma, malformasi arteri vena, dan tumor kepala adalah kasus  kasus yang paling banyak ditemukan oleh para ahli interventional neuroradiologi di lapangan. Kerja sama dengan disiplin bidang lain dalam ilmu penyakit saraf tetap diperlukan guna mendapatkan hasil penatalaksanaan yang optimal

Kata kunci : interventional neuroradiologi; ilmu penyakit saraf; interventional neuroradiologi

Pendahuluan

Bidang Interventional neuroradiologi merupakan sub spesialis yang beberapa spesialis memiliki kompetensi untuk melakukannya; di Amerika tercatat para spesialis yang melakukan bidang ini berasal dari bedah saraf, bedah vascular, radiologi, dan neurologi. Bila dibandingkan dengan para spesialis lain, para neurologist termasuk paling baru bergelut dalam bidang ini, namun perkembangan interventional neuroradiologi yang amat pesat, disertai dengan peningkatan kebutuhan masyarakat akan ahli ahli subspesialis tersebut, membuat (walaupun bergelut paling akhir ) para neurologist mencatat angka peminatan terbanyak yang belajar tentang interventional neuroradiologi dalam 5 tahun belakangan ini.

Dewasa ini, diseluruh dunia, jumlah interventional neuroradiologi relatif sangat kurang, jumlah mereka berkisar antara 1000 – 1500 orang saja; jumlah yang sangat sedikit itu disebabkan karena berbagai macam factor, diantaranya jumlah sentral sentral yang meng­adakan pendidikan sub spesialis ini amatlah jarang; memang benar bahwa sudah banyak negara yang memiliki subspesialis tersebut, tetapi hanya sedikit sentral yang memiliki sertifikat international yang dapat mengadakan / membuat program pendidikan standard dan terstruktur ( memberikan gelar ); disamping itu dari berbagai macam sentral tersebut; rupanya juga memiliki spesifikasi tersendiri, dimana tidak semua sentral mendidik para calon interventional neuroradiologist tersebut untuk semua tindakan intervensi. Ambil contoh, di suatu negara yang paling banyak jumlah penduduknya, pendidikan interventional neuroradiologist hanya berkisar untuk tindakan thrombolisis dan stenting karotis, sementara itu, di negara lain memberikan kesempatan selain dua hal itu, juga untuk aneurisma coiling dan embolisasi, baik otak maupun medulla spinalis.

Bagaimana dengan di negara kita, perkembangan interventional neuroradiologi di Indonesia, masih me­miliki kesempatan yang amat sangat luas, agar ma­sya­rakat dapat menikmati dan merasakan betapa bermanfaatnya bidang ini. Bila dibanding dengan sesama negara asia tenggara, kita cukup tertinggal dari segi pemanfaatan dan jumlah ahli, apalagi bila dibandingkan dengan India. Bahkan, dinegara kita, be­lum ada seorang interventional neuroradiologi yang berasal dari latar belakang neurologi, sementara Bangladesh sudah memiliki sekitar 5 orang. Hal itu setidaknya dijadikan suatu “cambuk” bagi para spesialis terkait, agar lebih berminat untuk mendalami subspesialis ini. Kendala utama yang menyebabkan belum memasyarakatnya interventional neuroradioloi di Indonesia selain karena jumlah ahli nya yang memang belum banyak, harga yang harus dibayar oleh pasien untuk menjalani salah satu prosedur terkait dari bidang ini memang relatif agak mahal, namun bila kita ingin memberikan sebuah penatalaksanaan yang optimal bagi pasien, misalnya saja untuk kasus kasus TIA, stroke, perdarahan subarakniod, maka pemberian informasi kepada pasien tentang interventional neuroradiologi amatlah pen­ting.

Sejarah

Sejarah interventional neuroradiology tidaklah terlepas dari dan perkembangan interventional radiology.

Laporan pertama mengenai tindakan angiografi pada pembuluh darah otak didapatkan pada tahun 1927, yang menceritakan bahwa telah dilakukan tusukan jarum yang berisi kontras pada arteri karotis komunis.1

Pada tahun 1964, Dr. Charles Dotter, dari Portland Michigan USA, mempublikasikan tentang tindakan percutaneus ballon angioplasty pada majalah “circulation”, yang membuat dokter tersebut dianggap sebagai “ayah dari interventional radiology.

Setelah itu, perkembangan interventional radiologi amatlah pesat, namun tidak demikian halnya de­ngan interventional neuroradiologi. Pada awal tahun 1980-an, tindakan interventional neuroradiologi, hanyalah dianggap sebuah pekerjaan eksperimental dan hanya dilakukan pada pasien pasien yang sudah tidak memiliki pilihan cara terapi lagi.

Diakhir dekade 80-an dan awal 90-an, lahirlah sebuah peralatan yang amat membantu para interventional melaksanakan pekerjaannya yaitu Digital Substraction  Angiografi (DSA) dan Roadmap Fluoroscopic Imaging (RFI). Dengan kedua alat tersebut, yang bagi interventional neuroradiologi namanya menjadi cerebral DSA ( C-DSA )dan RFI, tindakan tindakan seperti angiografi, dan pemantauan kontras yang telah disuntikan ke dalam tubuh pasien menjadi amat mudah untuk diikuti. Sehingga, tindakan C-DSA dengan RFI pada saat ini menjadi sebuah kebutuhan, karena dengan melakukan tindakan tersebut, kita dapat mengevaluasi, apakah ada prosedur lain yang harus dilakukan seperti stenting karotis atau stenting intrakranial, atau tidak ada prosedur lain yang harus dilakukan.

Dan semenjak digunakannya C-DSA, maka per­kembangan peralatan yang dibutuhkan oleh seorang interventional neuroradiologi menjadi amat pesat; tidak berapa lama kemudian diperkenalkanlah mikro kateter yang tidak dipungkiri lagi, akan membuat  per­jalanan menuju pembuluh darah otak yang dike­hen­­daki akan semakin mudah dan “menyenang­kan”. Kemudian di awal tahun 1990-an, di­per­ke­nal­kan koil oleh perusahaan Boston Scientific, di­mana koil platinum ini dapat dengan lebih mudah menempel pada aneurisma sehingga mencegag pe­cahnya aneurisma tersebut.2

Sementara itu, tekhnologi memberikan andil yang sangat besar dalam memperbaiki bentuk dan kinerja dari stent, sehingga pada saat ini kita telah memiliki tidak saja non self expandable stent namun juga self expandable stent.

Implementasi interventional neuroradiologi

Sebenarnya, interventional neuroradiologi memiliki peran yang sangat besar dalam beberapa penyakit, khususnya yang menyangkut gangguan pembuluh darah otak. Pemeriksaan cerebral DSA, sebaiknya mu­lai dijadikan sebagai pemeriksaan rutin, yang dila­kukan setelah pemeriksaan CT sken kepala, dikare­na­kan banyak sekali kelainan kelainan anatomis dan fisiologis yang dapat dilihat dengan pemeriksaan C-DSA tersebut. Misalnya saja, pada penderita TIA dan stroke iskemik, umumnya dengan CT sken kepala  jarang sekali didapatkan suatu kelainan yang dapat dipandang memiliki potensi untuk menyebabkan stroke, namun ( menurut pengalaman penulis ) de­ngan C-DSA, kita dapat melihat adalah moderate / severe stenosis ?, bila ada apakah harus dilakukan stenting karotis atau intracranial ?, apakah kompensasi dari sirkulasi kontralateral-nya masih cukup baik bila kita tidak melakukan stenting ?, dan beberapa nilai lainnya yang dapat kita nilai dari suatu hasil pemeriksaan C-DSA, sehingga tidaklah salah bila banyak jurnal internasioal dalam 2 tahun terakhir ini menyebutkan bahwa cerebral DSA ( C-DSA ) adalah pemeriksaan terbaik untuk mengetahui anatomis pembuluh darah otak beserta kelainan yang menyertainya.1-3

Selain itu , beberapa penyakit seperti aneurisma, AVM, penatalaksanaan stroke tingkat awal ( thrombolisis ), beberapa tumor otak, juga membutuhkan peran dari interventional neuroradiologist, berikut ini akan kami coba paparkan beberapa penyakit  yang membutuhkan “jasa” dari interventional neuroradio­logist guna penatalaksaan pyang lebih komprehensif dari penyakit terkait. Namun peran dari seorang in­ter­ventional neuroradiologist tidak hanya sebatas pa­da penyakit penyakit dibawah ini, beberapa keadaan seperti Arteriovenous fistula, Malformasi Dural, thrombosis sinus venosus, dan masih banyak lagi, juga kita dapatkan selama menjalani pendidikan di bidang ini.

Stroke Iskemik

Interventional neuroradiologis mempunyai pandangan bahwa ada 2 mekanisme utama untuk pe­nanganan penderita stroke iskemik, yaitu Revascularisasi dan pencegahan timbulnya atau berulangnya stroke iskemik melalui tindakan stenting.3

 

Revaskularisasi

Revaskularisasi yang dimaksud adalah dengan menggunakan trombolitik  dan diberikan secara langsung intravena ataupun intra arterial, maupun digabung antara intravena dan intra arterial, namun cara pemberian yang terbaik adalah dengan intra arterial selektif; dimana dengan mikro kateter yang ditempatkan distal dari plak, di berikan terapi thrombolisis yang dimaksud, sehingga dapat sekaligus dievaluasi setelah pemberian terapi, apakah plak yang di”te­rapi” sudah hancur atau belum. Tentu saja, sebelum dilakukan pemberian trombolitik, harus dilakukan penentuan apakah pasien tersebut termasuk golong­an penderita stroke iskemik yang dapat diberikan trombolitik atau tidak.4,5

Keuntungan dari perbedaan cara pemberian  tersebut (intravena dan intraarterial) hanyalah untuk lebih memfleksibelkan waktu terapi yang optimal. Kita tahu, dengan menggunakan rt-PA yang di­ma­sukan secara intra vena, golden period yang kita miliki hanyalah 3 jam, namun dengan penyuntikan rt-PA saja secara intra arterial , maka waktu yang kita miliki untuk mengharapkan penyembuhan secara optimal adalah 4,5 – 6 jam bila kerusakan didapatkan di system karotis5, dan 8 – 12 jam bila kerusakan di dapatkan di sistem basilar.6

Dua hasil percobaan yang telah diterima oleh dunia interventional adalah mengkombinasikan pemberian abciximab secara IV dan rt-PA secara IA, di­ma­na dosis untuk abciximab adalah bolus 0,25 mg/­kgbb diikuti 0,125 mikrogram/kgbb/menit selama 12 jam, setelah itu dievaluasi dengan C-DSA, bila masih ada trombus, dilakukan pemberian rt-PA intra arterial selektif sebanyak 10-20 mg, diberikan me­la­lui pada sisi yang oklusi.7  Cara lain yang sudah dila­kukan adalah pemberian rtPA secara intravena, ke­mu­dian langsung dilakukan serebral DSA, dan bila masih diperlukan, diberikan rtPA secara intra arterial selektif. Dosis yang digunakan untuk keperluan ter­sebut adalah  IV rtPa diberikan dalam rentang waktu 3 jam – 4,5 jam setelah onset dengan dosis 0,6 mg­/­kgbb ( maksimal60 mg ) dengan 15% dari jumlah tersebut diberikan secara bolus,dan sisanya infus dalam waktu 30 menit; kemudian dilakukan cerebral DSA, bila masih ditemukan thrombus, diberikan rtPA  IA selektif dengan dosis total 22 mg.Dari cara tersebut diatas, didapatkan perdarahan intrkranial yang simtomatik sebanyak 6%,sedang yang asimtomatik 43%.5

Satu hal yang menarik adalah , ditemukan bahwa tingkat efektifitas rtPA, ternyata lebih baik pada wanita dibandingkan pada pria. Dari penelitian yang dilakukan pada arteri cerebri media dan karotis interna didapatkan hasil rekanalisasi yang terjadi pada wanita dibanding pria ( komplit dan parsial ) adalah 94% ( 59% ; 35% ) berbanding 59% ( 36% ; 23% ). Sedangkan, bila dicatat hasil yang didapat pada arteri cerebri media saja, pada wanita 100% ( 67% ; 33% ), sedang pada pria 61% ( 54% ; 7% ).8

 Pemberian urokinase dengan dosis 100.000 – 600.000 IU melalui intra arterial selektif, memberi­kan rekanalisasi baik itu parsial ataupun komplit yang memuaskan. Dan penggunaan urokinase, bila ditinjau dari segi biaya, jauh lebih menguntungkan dan dapat menekan terjadinya komplikasi perdarahan. Untuk keseluruhan metoda terapi dengan meng­gunakan obat obat trombolitik baik secara intra vena maupun intra arterial selektif, pemeriksaan fisik neurologi dan CT sken kepala harus langsng dilakukan setelah prosedur selesai.9 

Pencegahan dengan melakukan stenting arteri karotis ataupun stenting pada pembuluh darah intrakranial

Stenosis dari arteri karotis dan pembuluh darah intrakranial memberikan kontribusi sekitar 10 – 20% untuk terjadinya stroke iskemik ataupun TIA. Suatu tindakan stenting pada pembuluh darah tersebut  memberikan keuntungan yang tinggi pada individu dengan stesonis > 70%, dan beberapa yang stenosisnya  50 – 69% ; sedang pada pasien pasien asimtomatik, tindakan stenting  memperkecil resiko terjadinya stroke dan dapat dilakukan pada penderita dengan tingkat stenosis >60%.10-11 

Ada dua pilihan tindakan untuk menghilangkan stenosis yang timbul, yaitu stenting yang dilakukan oleh seorang interventionalist dan endarterektomi yang biasanya dilakukan oleh seorang ahli bedah saraf.

Dari beberapa trial yang dilakukan beberapa center di dunia untuk mengukur dan atau memperban­dingkan keefektifan antara Carotid Angioplasty Stenting (CAS)  dan Carotid Angioplasty Endarterektomi (CAE), didapat hasil yang amat bervariasi, na­mun untuk pasien pasien dengan resiko tinggi, maka stenting merupakan pilihan utama, dengan didahului oleh pemberian clopidogrel 75 mg dan asam salisilat 150 mg selama 2 minggu sebelum prosedur dan 1 minggu setelah prosedur.11

Strategi penatalaksanaan pasien dengan stenosis karotis

Yang dimaksud resiko tinggi untuk endakan endar­te­rektomi adalah : (approved NYHA)11

3   gagal jantung derajat III / IV

3   fraksi ejeksi ventrikel kiri < 30%

3   angina yang tidak stabil

3   oklusi arteri karotis yang kontralateral

3   saat ini menderita infark miokard

3   baru dilakukan endarterektomi akibat stenosis yang rekuren

3   radiasi di daerah leher

3   Usia lebih dari 80 tahun

3   Penderita gangguan paru paru kronik

 

Aneurisma 2,10

Peran para interventional neuroradiologist pada penatalaksanaan aneurisma semakin dimudahkan dengan terus diperkenalkannya peralatan peralatan yang semakin memudahkan mereka mencapai lo­kasi aneurisma, dan menempelkan koil yang dihantarkan ke lokasi aneurisma. Bila beberapa waktu yang lalu, giant aneurisma menjadi masalah, dikarenakan lehernya yang lebar (lebih dari 5 mm) sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai “pegangan” koil yang ditempelkan kedalamnya agar tidak rupture ataupun tidak prolaps dan akan menjadi sumber ma­salah, maka saat ini, dengan tekhnik coil yang di­da­hului oleh pemasangan sten atau pemasangan stent ganda , hambatan tersebut dapat diatasi.

Dewasa ini terdapat beberapa jenis dan ukuran koil, yang kesemuanya dibuat untuk lebih memudah­kan para interventional neuroradiologist untuk “me­ngisi” aneurisma yang ada dan memperkecil resiko rupture pada pemasangan koil pertama dan terakhir. Namun yang lebih penting adalah, bahwa beberapa prosedur persiapan menjadi amat diperhatikan pada saat akan dilakukan koiling oleh seorang interventional neuroradiologi terhadap pasien pasien aneu­risma , karena angka komplikasi pada prosedur koiling ini adalah berkisar antara  6 – 10 %.

 

Malformasi arteri-vena 2,10

Penatalaksanaan malformasi arteri vena adalah penatalaksanaan yang “paling lambat” mengalami  kemajuan. Saat ini, masih tidak ada bukti bukti yang valid, untuk menjawab, penatalaksanaan apa yang pa­ling tepat untuk kasus ini, apakah reseksi oleh be­dah saraf, radiasi stereotaktik, ataupun em­boli­sa­si. Saat ini sedang dilakukan suatu penelitian secara komphrehensif dengan nama ARUBA (A Randomized trials of Unrupturs Brain AVM), dimana pada saat ini rencana penelitian tersebut masih dalam pengujian teori dan protokol.

Sementara itu, tindakan embolisasi sendiri yang saat ini menjadi pilihan utama untuk penatalaksanaan terapi malformasi arteri vena, memiliki ang­ka komplikasi sebesar  10%-15%. Untuk saat ini in­jeksi yang biasa digunakan para interventionist pun masih berkisar pada senyawa n-butyl cyanoacrylate, onyx, dan polivinil alcohol, yang disuntikan langsung melalui mikro kateter ke pembuluh darah feeder malformasi tersebut.

Tumor kepala 10,12

Peran seorang interventional neurologi pada te­rapi tumor kepala adalah “mengirimkan” kemoterapi pada lokasi yang dituju, selama system transport intra arterial yang digunakan, dan feeder arteri yang dituju dikenali; hingga dapat meningkatkan transport kemoterapi langsung ke target tumor, sekaligus me­nu­runkan efek samping sistemik yang amat sering terjadi.

Terdapat 8 kriteria yang merupakan indikasi untuk dilakukannya embolisasi pada tumor tumor sususan saraf pusat :

1.    untuk mengontrol arteri feeder bila dilakukan tindakan pembedahan

2.    menurunkan angka kematian akibat operasi dengan menurunkan resiko perdarahan

3.    mempersingkat waktu operasi

4.    memberikan kemudahan pada reseksi yang sulit

5.    menurunkan keruskan yang mungkin didapat pada jaringan yang normal

6.    menyembuhkan nyeri yang tidak kunjung berhenti

7.    menurunkan tingkat rekurensi dari tumor

8.    memberikan lapang visualisasi yang lebih luas bila dilakukan tindakan pembedahan .

Apabila dilakukan embolisasi, maka nekrosis tu­mor akan terjadi mulai dari 24 jam setelah embo­li­sasi  dan pada puncaknya pada hari ke 4.

Penutup

Terapi interventional neuroradiologi masih merupakan hal yang relatif baru khususnya bagi bidang ilmu penyakit saraf namun perkembangan yang didapat untuk menangani beberapa penyakit amatlah pesat, sehingga  perlu kiranya dilakukan pengenal­an, dan pemahaman yang lebih mendalam, bahwa te­rapi interventional neuroradiologi merupakan sa­lah satu cara terapi dan mampu memberikan solusi untuk mengatasi beberapa permasalahan dalam bidang ilmu penyakit saraf. Kerja sama dengan beberapa subbagian dalam bidang ilmu penyakit saraf amat diperlukan agar tercapai penatalaksanaan terpadu yang optimal dalam perawatan kasus kasus ilmu penyakit saraf.   

Keterangan Foto: Grup “Lenong Betawi” PPI-India berfoto bersama setelah pentas dalam acara Panggung Gembira HUT RI ke-62 pada 18 Agustus 2007 yang lalu.

* Fritz Sumantri Usman Sr. (Dr. Fritz) adalah Neurologist dari Indonesia, saat ini sedang menjalani fellow semester akhir interventional neuroradiology di Sir Ganga Ram Hospital – New Delhi India

 

Advertisements

Why Should I Study in India?

Course/Major Available: 

Medicine, Dentistry, Designing, Travel Tourism, Hospitality, Buddhist Studies, Social Work, Islamic Studies, Arabic Language, Yoga, Sport, Dietics and Nutrition, Bio Technology, Bio Science, Pharmacy, Law, Education, Engineering (180 Specialities), IT and Computer Science (dozens of specialities), Languages (around 44 languages), Health and Para Medical Course (around 40 specialities), Traditional & Alternative Medical Courses (dozen of specialities), Education (dozen of courses), Agriculture (dozen specialities), Accounts, Administration and Management (dozens of specialities), Commerce (hundreds of specialities), all Arts Subjects (thousands of specialities), Science (thousands of specialities/majors).

Level/Training Available: 

Study Levels: Certificate / Diploma / Bachelor / P.G. Certificate / P.G. Diploma / Master / M.Phil. / Ph.D/ / Post Doctorate / Others.

 

Training Levels: Certificate / Diploma / English Language Course / Others.

 

And Also: Memberships / Fellowships among many others.

Mode of Study: 

         Regular (Full Time),

         Part Learning,

         Distance Learning,

         Correspondence,

         Private Studies,

         External,

         Through Research,

         Fellowship / Membership,

         Online,

         Others.

University/Colleges Available: 

Hundreds of Universities and Thousand of Colleges all over India, at all major cities and at almost all important Academic Destinations. (Indonesian Students are mostly in New Delhi, Aligarh, Agra, Pune, Roorkee, Mumbai, Bangalore, etc).

Kind of Accommodation Available in India: 

Universities & Colleges (Hostels/Dormitories) , Paying Guest Accommodations, Private Hostels, Private Accommodations.

 

The most common and most popular accommodation in India is the last one, i.e. Renting Private Accommodation in Residential Areas (Range Rp. 500.000 – Rp. 1.600.000).

WHY INDIA?

Financial Reasons: 

– Very “Reasonable” Fee Structure (Mostly it is cheaper than Indonesian Univ.)

– Very “Moderate and Affordable” Living Expenses ( +/- Rp. 1.200.000 )

– Very “Affordable” Books and Study Materials ( Discount for Student 20%-50%)

– Very “Affordable” Transport Systems (Free for Student who has a “Bus Card”)

Admission & Academic Reasons:

         High standard of Education and International Recognition;

         English Medium (The Language of the Millennium);

         Availability of almost all course /Majors and Sub-specialities at all levels through almost all modes of studies;

         Specialized and Rare Educational Opportunities;

         Well Qualified Teachers (minimum requirement to be a teacher is Dr. or Ph.D);

         Duration of Bachelor Degree in most Courses is only Three years and Ph.D. is Two to Three years;

         India has more than 345 Universities / Academic Institutions and more than 18.000 Colleges / Institutes, teaching more than 16.000 different Courses.

Social, Political and Other Reasons:

         Diversity in Culture and Religions;

         Economic and Political Stability;

         Easy Visa, either from Indian Embassy or Indonesian Embassy;

         No Discrimination on Religion, Culture or Colors grounds;

         Availability of all kinds of climates to suit the requirements of all students, such as summer, winter (snow in North India), autumn, etc.

         Much closer geographically and culturally to most Indonesian students, only 6 to 8 hours from
Indonesia;

         The biggest Democracy in the World.

What After Graduation:

         Foreign Students graduating from India will have the strength of the English Medium Education and that will make them stand tall and strong among others in this competitive world.

         The Foreign student graduating from India with different Religions, Languages and different Cultures will become an international man, which is the main requirement of the millennium since the world is becoming one country.

         After graduating from India, Foreign Student can put what they learn into practical use in
Indonesia because we are developing countries or the third world countries.

         Very well recognized International Education System around the World.

         Regional & International Education Hub.

         Second largest Education System in the World

         The Seventh Largest Industrial Economy in the World

         High Standard of Education and International Recognition

         Twenty Five Million Indian and people of Indian origin are working and living abroad, many of them with High Qualifications; they are the Teachers, Nurses, Programmers, Designers, Doctors, Engineers, Scientists etc.

         A look at local Newspaper Advertisements will show that Americans, Europeans and Japanese as well as others are desperate to recruit Indian Engineers, Teachers, Scientists, Doctors and Nurses etc. And on many occasions they have changed their Immigration rules to accommodate Indian Professionals and Academicians etc.

         Indian Educated Engineers dominated Silicon Valley. In 2001 more than 40% of the venture capital funded technology start up Companies in Silicon Valley had at least one Indian Founder.

         More than 15% Teaching Faculties in US Universities have their under graduate degree from India and perhaps more than that in UK.

         More than 15% of Physician in America is Indians and perhaps much more in UK.

         The biggest Companies in America are having a big chunk of Indians; 25% of NASA Employees are India Qualified, 23% of Microsoft Employees are Indian Qualified, 26% of IBM Employees are India Qualified and 17% of Intel Employees are India Qualified.

         One of the greatest Engineering Monumental structure in the World is Taj Mahal which has been built by Indians centuries ago.

         India has manufactured Atom Bomb, Airplanes, and Indians have reached the space.

Source: TAEC India

-PMF-

Picture Note: Indonesian Student Association in India (PPI India) went to Manali (one of Himalaya Valleys) for Winter Tour 2007.

Women’s Reproductive Rights in the Islamic Jurisprudence

Women’s Reproductive Rights in the Islamic Jurisprudence

By Dewanti Lakhsmi Sari
Melahirkan merupakan salah satu penyebab kematian nomor satu bagi wanita, dan dalam kasus ini Indonesia menempati peringkat tertinggi, yaitu nomor satu di antara negara-negara di Asia Tenggara, dan nomor empat di
Asia Pasifik. Penulis mencoba melihat hak menolak bagi wanita untuk melahirkan dari sudut pandang hukum Islam.

Islam exists to protect and free women from a life of torture. The Koran gives both females and males the same rights.
Since the beginning, the Koran has had the intention of treating parents well, especially our mothers. The added emphasis of respect towards our mothers is a result of their experience of pregnancy and childbirth. This is similar to that mentioned in the Koran:“And we have enjoined on man (to be good) to his parents: in travail upon travail did his mother bear him, and in years twain was his weaning: (hear the command), “Show gratitude to Me and to thy parents: to Me is (thy final) goal” (Luqman, 31:14).The verse above is associated with the reproductive health of women, which also forms a part of women’s rights. As we all know women’s rights are a part of human rights. From here, we can see the importance in the need for discussion within the wider community of the problems associated with reproductive health and women’s reproduction rights. Discussing issues like these, also means working on humanitarian problems. What is ironic, is, that there are many cases where women have not received the same rights, or, are able to carry out the same behaviors, as those enjoyed by men. Women tend to still be pushed aside and considered second-class citizens to men. But, at the same time, they must carry out duties and support their households (husband and children). This fact can be witnessed everywhere, especially in villages and kampungs (traditional Indonesian village/quarter). Social events and activities are also evidence to the large number of cruelly treated women in
Indonesia.
Violence against women continues to this day and is carried out everywhere, in a variety of ways including physical, mental and sexual violence. Situations of violence like these increase the seriousness and endanger the reproductive functions and bodies of females. An international report states that every year more than 500,000 women die as a result of pregnancy or childbirth, and 70,000 women die as a result of abortion or miscarriage. Seven million babies die every year, as a result of the mother being physically unable, or, as a result of a shortage in obstetric check ups (see Women’s rights, A guide to UN Conventions Concerning Women’s Rights, from the Organisation Jurnal Perempuan, 2001).This data explains how very brittle the susceptibility of women’s reproductive health is, and is thus closely intertwined with the reproductive rights of women. The core of all female problems is the struggle for women’s rights, which, at present is unequal. On a social level, the position of women is generally not considered to be useful, while characteristics such as power and strength tend to be equated with males (patriarchic). Now to look at the association between the reproductive rights of women and Islam, the author will try to explain the view of the holy Koran. This will be done methodologically with the use of fiqh, using the comparison of interpretations by Islamic Ulama and kaidah ushul fiqh, in an attempt to consider the problems associated with female reproduction.

The right to enjoy a sexual relationship

Human beings, aside from being intelligent creatures, are also sexual creatures. Sexual activity is a natural instinct of every human being. Within the teachings of Islam, all instincts of mankind are valued and respected. Sexual instinct should thus be channeled and not curbed. The curbing of ones instincts will increase negative effects, not only concerning a person’s body, but also ones mind and soul.Marriage usually includes a sexual relationship. The definition of marriage varies in accordance with trends and the respective couples view on it. Some people say that marriage is the unification of a male and female and validated by the law. In fiqh, the majority of fiqh experts define marriage as a male’s right over the female’s body for sexual enjoyment. Although the language can vary, there is an agreement among the majority of Ulama that the covenant of marriage gives ownership to the male to obtain enjoyment from the body of his wife. This is because there is a general agreement that the male is the owner of sexual happiness .Islam exists to protect and free women from a life of torture. The Koran gives both females and males the same rights. Women have the right to treat men with nothing but goodness. We can thus use this view as a starting point, to formulate marriage as a legal promise, that gives both males and females equal sexual rights.The right to reject sexual relationsBased on equality and justice for both men and women, the problem of a sexual relationship can occur when the husband refuses to serve the sexual needs of his wife. Ibnu Abbas has said “ I like to dress up for my wife just as she likes to dress up for me” . This expression has the meaning that a husband and wife need to respectively give and receive, in a peaceful and loving atmosphere.

 

The right to reject pregnancy

Pregnancy on the one hand can form happiness for the wife, but on the other hand, it may also be something that has not been wished for. Aside from whether a pregnancy has been wished for or not, the Koran says that women who are pregnant are always in a condition of weakness. The level of weakness becomes greater at the time of childbirth. Professor Ida bagus Gde Manuaba, asserts that women experience many problems that can disrupt their health during pregnancy, among them are, morning sickness, leg cramps, varicose veins, fainting, and leg swelling .It must be understood that childbirth forms a very critical point in a woman’s life. Risks of fatality exist and can be caused by a variety of factors. The risks women undergo during pregnancy and childbirth, can only be felt by women themselves, as is only women who possess these reproductive organs. The two risks most commonly heard of are bleeding and miscarriage. How wise the prophet was when he said: “there are seven possibilities to achieve martyrdom aside from dying in a war, these include, people that die as a result of poisoning, those that drown in water, those that fall ill with a virus, those that have leprosy, those that are burnt in a fire, those that are buried by scaffolding and those that die in childbirth” (hadith narrated by Abu Dawud, an-Nasai, Ibn Majah and Ibn Hibban, see al-Mundziri, at-Targhib wa at-Tarhib min al-Hadits asy-Syarif, II/335).The prophet thus gives women who die in childbirth a guarantee into heaven. Their position in the face of God, is the same as that of soldiers in fields of war, fighting against their enemies. The prophet’s statement mentioned above is no different from the high value placed upon women who die as a result of childbirth. But, because many people still see dying a martyr as gaining a great amount of merit and the guarantee into heaven, those who are pregnant tend not to feel like they must give wholehearted care to their pregnancy. This is clearly a foolish idea. Results of expert research show that the position and reproductive health of women during pregnancy is very complicated and thus childbirth is a primary killer of all fertile women. The situation of maternal mortality places Indonesia as the highest ranking country among countries of
Southeast Asia, and fourth highest in the Asia Pacific.
The increase in this problem means we need a deeper knowledge and a greater balance between men and women, so that women are able to reject pregnancy. What’s more, women also have the right to make the decision of how many children they wish to have. No person can deny that inside the stomach of a pregnant woman is where a child grows and develops and while males do play a role in the fertilization process, it is the female who must experience the problems associated with childbirth. There is a controversy concerning who has the right over the child. The majority of Fiqh experts believe that children are the responsibility of both the father and the mother; as a child is the product of both parents. Because of this, to decide when to have children and how many children to have should become the right of the wife, but must be discussed by both parents. From here, we see the possibility to increase the decision-making capacity for wives and mothers, meaning their susceptibility to illness or maternal mortality at the time of pregnancy or childbirth, can be reduced.The prevention of a woman becoming pregnant can be carried out in a number of ways and by use of a number of instruments, regulated by the family planning program. This can be by way of periodic prohibition or with other forms of contraception. With regards to the use of contraception, the wife has the right to decide what form of contraception she will use, in accordance with her health condition. It is thus logical that she also has the right to obtain information and an honest explanation from medical experts concerning her condition and choice of contraception. When she does not have any knowledge concerning contraception devices the doctor has an obligation. 

The Right To Abortion

The use of contraception and other methods to prevent pregnancy, cannot guarantee a woman that she will not fall pregnant. The choice for life (to become pregnant) or not, lays in the hands of God. An unwanted pregnancy (due to a variety of factors) can happen and these days happens on a regular basis. In regards to this situation then, can a woman cause a disruption/miscarriage to her pregnancy?As a principle, Islam prohibits in all forms, the act of damaging, injuring or killing other human beings. The Prophet has said:“Do not cause damage (endanger) upon ones self or others”. In a verse of the Koran a similar statement has also been made. Yet, still in our lives we are faced with difficult choices. The issue of abortion is indeed one of these difficult choices. To abort a fetus in the womb can mean killing a living spirit, but to neglect the continuation of life inside ones uterus for whatever reason, can result in suffering or worse, still death to the mother.In regards to this problem, fiqh offers a number of choices. Firstly Fiqh Ulama agree that abortion cannot take place after the fetus is 120 days (4 months). A fetus that is 120 days old, in their view, is already a full human being. Many views concerning abortion of the fetus (before 120 days) do not consider this abortion but murder. While on the contrary, Islamic experts hold a very pluralistic view concerning abortion, before the time mentioned above. Ulama concerning this issue base their view on al Mukminun verse 12-14:Man we did create from a quintessence (of clay); Then we placed him as (a drop) sperm in a place of rest, firmly fixed; then We made the sperm into a clot of congealed blood; then of that clot we made a (fetus) lump; then We made out of that lump bones and clothed the bones with flesh; then We developed out of it another creature. So blessed be God, the Best to Create!”.This verse positions the formation of mankind into three categories: nutfah, ‘alaqah, and mudghah. A more lax stance on this issue has been put forward by al Hashkafi bermazhab Hanafi. Abortion in his opinion can be carried out before 120 days, whether there is a valid reason or not. Al Karabisi from Mazhab Syafi’l, like that noted by al Ramli in Nihayah al Muhtaj, only agrees with abortion when it is still in the shape of when the sperm first meets the egg (before fetus has begun to develop). A more strict view can be found by al-Ghazali from mazhab Syafi’i. He forbids abortion from the time of fertilization. This opinion is also that of the majority of mazhab Maliki followers (school of thought concerning Islamic law), ibnu Hazm al Zhahiri and a portion of Syi’ah. For as long as abortion has been investigated through fiqh literature, there tends to be an agreement of behalf of the Ulama, without looking at the age of the fetus, that abortion can be carried out if the fetus during pregnancy dangers or threatens the life of the mother, and of course that this also has been assured by a doctor or medical expert. This view shows that the safety of the mother is put in front of the safety of the unborn fetus. Fiqh views the death of the fetus as a smaller risk, than that of the death of the mother, because the mother is the originator of the baby or fetus; the mother is already in existence. The mother also has a number of obligations. While the fetus or baby is inside the womb, although it does already exist, it does not represent an obligation to other humans “so if a dilemma occurs, it (the fetus/unborn baby) is considered the victim with the smaller risks.” The view of the fiqh experts above, concerning the motives of abortion, appears to be limited by health and medical indicators. Other motives like social indicators including economic, political and psychological have not yet been given an extensive explanation. But, it is interesting when we monitor that Ulama from the Mazhab Hanafi train of thought, allow abortion without requiring any specific reasoning.Finally, one issue that needs to be emphasized in the relationship between humans is the importance of a relationship based upon gender equality. Islam is a just religion, a religion that rejects all forms of discrimination and all forms of violence. We are born to build and uphold the supreme principles of mankind. All of the prior constructed thinking, concepts and rules in life, should be formulated by the Muslim community intelligently and then applied and monitored to their respective social lives. 

Belajar di Perguruan Tinggi India

Oleh: Zamhasari Jamil Pelajar Ilmu Politik di Aligarh Muslim University, Aligarh, India. 

The writer gives a comprehensive explanation about Indian education in particular and Indian culture in general. England has left positive trace in Indian Education, and as the result India’s education system has lead India to become one leading country. This article is very beneficial for those interested in Indian education or those who want to study in India.   I. Sejarah Singkat India  A. Zaman Purbakala 

            Sekitar 2500 S.M. sudah terdapat corak penghidupan manusia dengan kebudayaan yang cukup tinggi di anak benua India dengan penghidupan secara berkelompok di kota-kota di daratan Indus dengan pusat-pusatnya di Mohenjodaro, Harappa dan juga di daerah-daerah lain seperti di Gujarat dan Rajasthan. Dari segi ilmu sejarah, tidak banyak terdapat peninggalan bahan-bahan atau tulisan-tulisan tentang zaman purbakala di India.   B. Zaman Permulaan 

Sekitar 1500 S.M. datanglah ke anak benua India bangsa-bangsa yang semula mendiami daerah-daerah sekitar Laut Kaspia, yang dalam sejarah India dikenal sebagai bangsa Arya atau Indo-Arya. Bangsa Arya ini mula-mula menetap di daerah Punjab (India Barat Laut) yang kemudian meluas ke daerah sungai Gangga dan daerah-daerah lain di India. Mereka membawa kepercayaan, filosofi dan kebudayaan mereka ke India, yang kemudian menyatukan diri dengan kebudayaan di India pada waktu itu.             

Lama kelamaan mereka berhasil mencapai taraf peradaban dan kebudayaan yang tinggi dengan menemukan suatu bahasa, yang kemudian dikenal dengan bahasa Sanskrit, yang mereka pergunakan dalam nyanyian-nyanyian keagamaan mereka yang dinamakan dengan “Rigveda” untuk memuja dewa-dewa dan kepercayaan mereka.            Zaman Arya ini menyaksikan lahirnya kerajaan-kerajan di India dan masa ini berlangsung sampai abad ke-7 S.M. Pada abad ke-6 S.M. terjadilah pernyebuan ke India oleh bangsa-bangsa Parsi, yang karena kebudayaan dan teknik mereka yang lebih tinggi berhasil menduduki dataran India dengan membawa arsitektur dan cara penghidupan mereka. Zaman Parsi ini juga dinamakan dengan zaman empirium (Period of Empires) dalam sejarah India, dengan berdirinya empirium-empirium seperti Magadha dengan raja-raja Bimbisaura dan Ajatasatru. Pada abad ke-6 inilah lahir Budha Gautama dan Mahavira. Zaman Parsi ini juga membuka perhubungan lalu lintas antara India dengan negara-negara di sebelah baratnya.            Pada tahun 326 S.M. pasukan-pasukan Iskandar yang agung menyerbu India dan berhasil menduduki daerah India Barat Laut. Meskipun tidak meninggalkan pengaruh politik yang besar, tetapi nyatanya untuk waktu yang cukup lama, mitologi dan kebudayaan di bagian Barat Laut India banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani. Pasukan-pasukan Iskandar yang agung akhirnya dapat dikalahkan oleh Raja Chandra Gupta. Cucu Chandra Gupta, yaitu Ashoka menjadi raja yang sangat terkenal dalam sejarah India. Raja Ashoka ini yang secara terus-menerus telah mengalami kepahitan perang akhirnya memeluk agama Budha dan dibawah pemerintahannya banyak mengirimkan misi-misi agama dan kebudayaan ke negara-negara di Asia Selatan, Timur dan Tenggara. Dan dalam masa 900 tahun berikutnya, India mengalami zaman perdamaian dimana kerajaan-kerajaan dapat berkembang, yang pada masa sekarang ini masih dapat dilihat sisa-sisanya dalam bentuk pemahatan batu dan candi-candi.  C. Zaman Pertengahan            

Pada abad ke-8 pedagang-pedagang Islam dari Asia Barat datang ke India. Pengaruh agama dan kebudayaan Islam meluas ke seluruh India dan pada abad ke-13 berdirilah Kesultanan Delhi yang melahirkan suatu dinasti Islam di India selama beberapa abad lamanya. Berdirinya Kesultanan Delhi pada abad ke-13 ini, dalam sejarah India dianggap sebagai permulaan zaman pertengahan dan dimulainya Zaman Mughal. Penyatuan kebudayaan Islam dan Hindu membawa kejayaan bagi India yang tercermin dalam seni, sastra, bahasa dan arsitekturnya. Pada abad ke-13, 14 dan 15 tersebut, India menyaksikan lahirnya pujangga-pujangga besar seperti Amir Khusrau dan raja-raja besar yang telah memerintah India dengan arif dan bijaksana seperti Akbar (disebut juga sebagai The Greatest Mughal Emperor) dan Shahjahan, dua orang raja Mughal yang sangat terkenal. Hingga sekarang masih tampak dengan jelas peninggalan-peninggalan Islam di India dengan terdapatnya mesjid-mesjid dan makam-makam Islam di seluruh India seperti Taj Mahal dan lain sebagainya.           Kemunduran Islam di India terjadi pada tahun 1707 setelah wafatnya Raja Aurangzeb. India terpecah belah dalam kerajaan-kerajaan kecil yang saling bermusuhan dan berperang, yang memudahkan bangsa-bangsa Barat masuk ke India. Dalam sejarah India, Bahadur Shah Zafar dianggap sebagai penguasa dinasti Mughal yang terakhir. Ia pernah melancarkan pemberontakan terhadap Inggris, tetapi pemberontakan tersebut dapat ditindas Inggris pada tahun 1857.  D. Zaman Penjajahan

 Orang Barat pertama yang menginjakkan kakinya di India ialah Vasco de Gama pada bulan Mei 1498 di Kalikut, tetapi ia tidak berhasil untuk menetap di sana. Kemudian usaha tersebut diulanginya pada tahun 1501 dan berhasil mendirikan tempat kedudukan bagi Portugis di Kannanore, Kochin dan Kalikut. Bangsa-bangsa barat lainnya seperti Spanyol, Belanda dan Inggris berturut-turut datang ke India dengan maksud yang sudah cukup terkenal dalam sejarah bangsa-bangsa Barat di Asia. Dengan keadaan yang sudah terpecah-belah diantara bangsa-bangsa di India sendiri, maka orang-orang Barat tersebut berhasil menduduki tempat-tempat penting di pantai selatan India yang kemudian melebar dan akhirnya Inggris jualah yang memenangkan kekuasaan di anak benua India. Kekuasaan Inggris di India dimulai dengan berdirinya English East India Company pada tahun 1600 yang semula lebih bersifat dagang, dan kemudian dibarengi dengan penguasaan secara fisik dan politis, yang mencapai puncaknya dalam pertempuran Buxar pada tahun 1756 melawan raja-raja India. Kemenangan Inggris dalam pertempuran itu membuat Inggris berhasil menguasai daerah-daerah Benggala, Bihar dan Orissa yang kemudian dalam kurun waktu yang kurang dari setengah abad disusul pula dengan penguasaan terhadap daerah-daerah lain di India.            Pada tahun 1824 Pemerintah Inggris mengambil alih kekuasaan terhadap English East India Company dari India dan dengan demikian secara mutlak mendudukkan kekuasaannya terhadap negara ini. Meskipun demikian, Inggris masih mengizinkan berdirinya kerajaan-kerajaan kecil yang dikepalai oleh pangeran-pangeran. Inggris juga menempatkan seorang Gubernur Jenderal di India sebagai Wakil Mahkota dan Pemerintahnya. Ahli-ahli sejarah India menganggap zaman penjajahan Inggris tersebut sebagai suatu proses modernisasi yang menguntungkan bagi penyatuan seluruh wilayah India secara politis dan administratif dan berlakunya ketentuan-ketentuan hukum dalam mengatur kehidupan masyarakat. Demikian juga menjelang abad ke-19 diletakkan dasar-dasar pembangunan industri serta peningkatan lembaga-lembaga pendidikan di India.              Gerakan kemerdekaan dan perasaan kebangsaan India mulai timbul pada pertengahan abad ke-19 dengan meletusnya suatu pemberontakan yang dipimpin oleh raja-raja India pada tahun 1857, tetapi berhasil ditindas oleh Inggris. Gerakan kemerdekaan tersebut mencapai suatu bentuk yang lebih nyata dengan berdirinya Indian National Congres pada tahun 1885 yang pada tahun 1905 menuntut diadakannnya “Swaraj” (self-rule): dari-oleh-untuk bangsa India.                 Kemudian pada tahun 1906 didirikan pula Indian Muslim League untuk menyatukan dan menjamin kepentingan-kepentingan orang Islam di India. Dari sinilah sebetulnya awal permulaan lahirnya negara Pakistan.    

         Demikianlah selama kurang lebih setengah abad lamanya, gerakan kemeredekaan India menuntut kemerdekaan penuh bagi India. Pemimpin-pemimpin terkenal dalam gerakan ini antara lain ialah Mahatma Gandhi, Jawaharlal Nehru dan Mohd. Ali Jinnah. Pada tahun 1935, Inggris mengumumkan “The Government of India Act” yang merupakan Undang-Undang Dasar untuk pemilihan dewan-dewan perwakilan di negara-negara bagian. Banyak kedudukan dalam dewan-dewan tersebut dimenangkan oleh National Congress dan Muslim League.              Dan pada tahun 1940, untuk pertama kalinya, Muslim League menuntut satu negara khusus untuk orang-orang Islam.             Menjelang berakhirnya Perang Dunia II, tuntutan kemerdekaan makin mendesak kepada Pemerintah Inggris yang menghasilkan dibentuknya suatu Constituent Assembly, tetapi Muslim League tidak bersedia ikut serta dalam Constituent Assembly ini dan tetap menuntut dibentuknya suatu negara tersendiri bagi penduduk Islam India. Tuntutan kaum Muslim itu akhirnya dipenuhi oleh Inggris dengan pembentukan negara Pakistan. Pada tanggal 15 Agustus 1947, Inggris memberikan kemerdekaan kepada India dan Pakistan.   E. Zaman Kemerdekaan 

            Setelah berhasil menanggulangi dua masalah besar pada awal kemerdekaannya, yaitu perpindahan penduduk secara besar-besaran akibat terpecahnya bekas jajahan Inggris ini menjadi India dan Pakistan serta masalah pengintegrasian k.l. 600 kerajaan-kerajaan kecil yang diperintah oleh pangeran-pangeran ke dalam Negara Kesatuan India, India mulai menyusun kerangka kehidupan kenegaraannya dalam bentuk suatu Undang-Undang Dasar yang mulai berlaku pada tanggal 26 Januari 1950. Sejak tanggal ini pula India resmi menjadi Republik India dengan Presiden sebagai Kepala Negaranya dan Perdana Menteri sebagai kepala Pemerintahannya.             Salah satu tujuan India adalah untuk mencapai kemerdekaan ekonomi yang diusahakan melalui pembangunan ekonomi dan sosial berencana melalui berbagai Repelita yang dimulai sejak April 1951. Dalam masa lebih dari 30 tahun ini India telah berhasil membangun industri-industri berat dan mendidik tenaga-tenaga teknologi yang menjadi landasan untuk pembangunan industri-industrinya lebih lanjut (seperti: mobil, pesawat terbang, tank dan persenjataan, mesin-mesin dan generator-genarator berat, kereta api dan sebagainya). Selain itu dalam beberapa tahun terakhir ini India juga telah berhasil mencukupi kebutuhannya sendiri akan bahan-bahan pangan.             Disamping prestasi-prestasinya tersebut, India masih menghadapi berbagai tantangan dalam pengintegrasian nasional, seperti usaha penerapan bahasa Hindi sebagai bahasa nasional, pertentangan komunal (Hindu-Muslim) dan bahkan pertentangan antar kasta yang belum kunjung selesai.             Sejak kemerdekaannya, India beberapa kali mengalami konflik bersenjata dengan negara-negara tetangganya, yaitu a.l. dengan RRC tahun 1962 mengenai soal perbatasan dan dengan Pakistan tahun 1971 yang berakhir dengan perubahan status Pakistan Timur menjadi negara Bangladesh.          

   Usaha-usaha dan aktivitas diplomatiknya (Konferensi Asia-Afrika, Non-Aligned Movement, peranananya di PBB, dsb.nya) telah berhasil menempatkan India sebagai salah satu negara terkemuka dalam Dunia Ketiga.  II. Pendidikan              Sebelum tahun 1976, pendidikan sama sekali merupakan tanggung jawab Negara-Negara Bagian (Pemerintah Daerah), sedangkan Pemerintah Pusat hanya mengurus bagian-bagian tertentu seperti koordinasi, penentuan standar pendidikan teknik dan menengah dan sebagainya. Pada tahun 1976, melalui suatu Amandemen UUD, pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Negara-Negara Bagian. Akan tetapi tanggung jawab utama tetap berada di tangan Negara Bagian.  

A. Kebijakan Nasional dan Perencanaan  

            Kebijakan Pendidikan Nasional tahun 1968 telah diterima sebagai suatu kerangka kebijakan nasional untuk pengembangan pendidikan pada semua tingkat dan didukung oleh garis-garis besar pendidikan yang termaktub dalam Repelita VI.             Program-program yang tercantum dalam Kebijakan Pendidikan Nasional tersebut dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Negara-Negara Bagian dengan modifikasi dan penyesuaian disana-sini sesuai dengan perubahan zaman. Yang terpenting dari program-program itu ialah usaha-usaha untuk menguniversalisasikan pendidikan dasar dan pemberantasan buta huruf pada orang dewasa.             Perencanaan pendidikan dilakukan bersama-sama oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Negara Bagian. Dalam lima Repelita sebelumnya, pendidikan lebih banyak ditujukan sebagai suatu dinas sosial dan bukan untuk membantu menunjang gerak pembangunan. Perubahan dilakukan pada Repelita VI dimana pendidikan dianggap sebagai suatu hal yang penting untuk menunjang pembangunan ekonomi dan sosial melalui pengembangan sumber daya manusia. Dalam Repelita VI tersebut, pendidikan untuk golongan masyarakat lemah dan penduduk suku-suku terasing dan kasta rendah juga diberikan prioritas. Prioritas juga diberikan untuk meningkatkan mutu pendidikan, khususnya pendidikan teknis dan menengah, vokasiolisasi pendidikan, pengembangan bahasa-bahasa daerah, evaluasi hasil-hasil yang dicapai dan menciptakan hubungan yang dinamis antara program pendidikan, kesehatan, kesejahteraan social dan penciptaan lapangan kerja.  B. Pendidikan Dasar dan Menengah 

            Prioritas tertinggi diberikan untuk pemerataan pendidikan dasar. Di sekolah-sekolah yang dikelola oleh Pemerintah dan sekolah-sekolah yang dikelola oleh badan pendidikan setempat, pendidikan diberikan secara gratis mulai dari kelas I sampai kelas VIII (mulai dari kelas I SD sampai kelas II SMP di Indonesia).             Pendidikan gratis juga diberikan Pemerintah sampai tingkat Menengah Pertama (kelas X). Di beberapa Negara Bagian, Pemerintah setempat juga memberikan pendidikan gratis untuk tingkat Menengah Atas (kelas XI dan kelas XII).  C. Pendidikan Tinggi            

Di India terdapat 182 universitas dan sejumlah lembaga-lembaga perguruan tinggi yang berstatus disamakan dengan universitas. Semua universitas dan lembaga tersebut berada dibawah University Grants Commission yang didirikan tahun 1953 untuk memajukan dan mengkoordinir pendidikan di perguruan tinggi, menentukan standar pengajaran, ujian-ujian dan riset. Komisi ini juga mempunyai wewenang untuk menetapkan anggaran dan bantuan keuangan bagi semua universitas.   

D. Penyediaan Buku-Buku             Penyediaan buku-buku teks untuk sekolah-sekolah dan universitas dan buku-buku bacaan yang bermanfaat dengan harga yang relatif murah diurus oleh suatu badan yang disebut dengan National Book Trust (NTB) yang dibentuk oleh Kementerian Pendidikan pada tahun 1957. Badan ini juga menerbitkan buku-buku dalam bahasa Inggris dan dalam bahasa-bahasa daerah di India. Sebagai salah satu usaha untuk menyediakan buku-buku dengan harga murah, khususnya buku ilmu pengetahuan, pendidikan dan teknik, Pemerintah India membebaskan buku-buku tersebut dari lisensi.  III. Belajar di Perguruan Tinggi India  A. Informasi Umum  

Secara umum lama masa belajar di India untuk program S-1 (Bachelor Degree) hanya ditempuh dalam waktu 3 tahun kecuali jurusan Hukum dan Arsitektur selama 5 tahun (10 semester), jurusan Engineering dan Teknologi, jurusan Seni Lukis dan jurusan Kedokteran Gigi selama 4 tahun. Bagi anda yang mengikuti program S-1 pada jurusan-jurusan ilmu sosial, humaniora dan eksakta tidak dibebani dengan penulisan skripsi. Adapun untuk program S-2 (Master Degree) ditempuh dalam waktu 2 tahun. Sedangkan untuk program S-3 lamanya maksimal 5 tahun.             Sebelum masuk ke Perguruan Tinggi di India, terlebih dahulu anda harus mendaftarkan diri dengan mengisi formulir pendaftaran yang disediakan oleh pihak universitas dan melampirkan dokumen-dokumen yang dibutuhkan, kemudian anda harus mengikuti ujian masuk atau Entrance Test (tulisan dan wawancara) yang diadakan oleh pihak universitas.              Permasalahannya, untuk mengikuti ujian masuk ini, Kedutaan Besar Republik India di Jakarta atau Konsulat Jenderal Republik India di Medan biasanya tidak mengeluarkan Visa Pelajar (Student Visa) kepada calon pelajar asing yang akan mengikuti ujian masuk ini sebelum anda tercatat menjadi mahasiswa di salah-satu Perguruan Tinggi di India. Karena itu bila anda datang ke India dengan menggunakan Visa Masuk (Entry Visa) hanya untuk mengikuti ujian masuk saja, dan kemudian dinyatakan lulus dan diterima untuk belajar di universitas di India, maka anda harus kembali lagi ke Indonesia untuk memperoleh Visa Pelajar (Student Visa) dari Kedutaan Besar Republik India di Jakarta atau Konsulat Jenderal Republik India di Medan.             Bahasa pengantar yang digunakan dalam proses belajar-mengajar di Perguruan Tinggi India adalah bahasa Inggris, Hindi, Urdu, dan bahasa Arab bagi anda yang mengambil jurusan Bahasa Arab. Karena itu, we are – foreigners – assumed to have sufficient knowledge and skill in English, if not, it’ll be on our own risk.  B. Kualifikasi Yang Dibutuhkan 

Bila anda bermaksud untuk melamar program S-1, maka anda sudah harus lulus dan memiliki ijazah SMA atau sederajat yang sah dan diakui oleh Pemerintah Indonesia. Dan anda juga sudah harus lulus dan memiliki ijazah S-1 dari universitas atau Perguruan Tinggi yang sah dan diakui oleh Pemerintah Indonesia untuk memenuhi persyaratan melamar S-2 di Perguruan Tinggi India.               Anda juga harus mengisi formulir pendaftaran yang disediakan oleh pihak universitas yang bersangkutan dilengkapi dengan Ijazah, referensi transkrip nilai akademik, Surat Keterangan Berkelakuan Baik dari pihak universitas, Akte Kelahiran (semua dokumen tersebut sudah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris), foto kopi paspor dan pas photo ukuran 4×6 sebanyak 12 lembar dan biaya administrasi pendaftaran lebih kurang USD $ 75/- (sekitar Rp. 750.000/-). Perlu diingat bahwa masing-masing universitas menetapkan biaya administrasi pendaftaran yang berbeda-beda.  D. Waktu Mengajukan Pendaftaran 

            Pembukaan pendaftaran belajar di universitas-universitas di India biasanya dimulai pada pertengahan bulan Maret dan ditutup pada bulan Mei setiap tahunnya, dengan demikian anda harus mengikuti perkembangan informasi tentang pembukaan dan penutupan pendaftaran untuk masing-masing universitas yang dapat anda peroleh melalui situs-situs atau website universitas yang bersangkutan. Catat baik-baik tanggal batas akhir penutupan pendaftaran itu supaya anda tidak terlambat untuk mengajukan lamaran. Untuk mendapatkan alamat situs atau website universitas di India, anda saya sarankan untuk meng-google-nya melalui internet.  E. Cara Pendaftaran Bagi Mahasiswa Asing  Setiap universitas memiliki prosedur yang berbeda-beda dalam menerima mahasiswa asing. Sebagian besar universitas-universitas di India mensyaratkan adanya ujian masuk bagi mahasiswa asing yang hendak belajar di universitas tersebut. Namun ada juga beberapa universitas yang tidak mensyaratkan adanya ujian masuk ini, seperti University of Delhi di New Delhi dan Aligarh Muslim University di Aligarh. Beberapa universitas juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa asing untuk belajar di universitas tersebut tanpa harus mengikuti ujian masuk baik tulisan maupun wawancara. Seperti contoh, Jamia Millia Islamia di New Delhi menyebutnya dengan kategori “Supernumerary Seats” dan Jawaharlal Nehru University di New Delhi menyebutnya dengan kategori “Absentia”.             Anda boleh menulis surat ke universitas yang menawarkan program studi yang diminati dan kemudian meminta formulir pendaftaran tersebut melalui Admissin Section atau Foreign Students Adviser universitas yang anda tuju. Formulir pendaftaran juga dapat anda download dari situs atau website universitas. Isi formulir pendaftaran tersebut secara benar dan lengkapi dengan persyaratan-persyaratan seperti yang tertera diatas tadi, kemudian kirimkan kembali ke Admissin Section atau Foreign Students Adviser universitas yang anda lamar itu sebelum batas akhir penutupan pendaftaran.             Bila anda sudah memenuhi semua kualifikasi yang dibutuhkan dan dinyatakan lulus untuk mengikuti program pendidikan di India, maka pihak universitas akan mengirimkan surat “Provisional Admission” kepada anda dan surat inilah yang harus anda bawa ke Kedutaan Besar Republik India di Jakarta atau Konsulat Jenderal Republik India di Medan untuk memperoleh Visa Pelajar.              Cara lain untuk melamar pendidikan di India adalah dengan mengirimkan semua dokumen-dokumen anda dan biaya administrasi pendaftaran lebih kurang USD $ 75/- (sekitar Rp. 750.000/-) kepada Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) India pada bulan Januari dan Pebruari (sebelum masa pembukaan pendaftaran) setiap tahunnya dan PPI India akan meneruskan lamaran anda ke universitas yang dituju. Jangan lupa untuk menyebutkan nama orang tua dan pekerjaan orang tua, alamat rumah dan alamat korespondensi serta nomor telepon dan alamat email. Informasi mengenai apakah anda diterima atau tidak oleh pihak universitas akan disampaikan oleh PPI India kepada anda pada bulan Juli dan Agustus.  IV. Biaya Pendidikan di India 

  1. Biaya Sendiri

            Masing-masing universitas menetapkan biaya pendidikan yang berbeda-beda. Secara umum, mahasiswa asing yang mengambil program S-1 dan S-2 pada jurusan-jurusan ilmu sosial dan humaniora hanya dikenai biaya pendidikan sebesar USD $ 500/- atau sekitar Rp. 5.000.000/- per tahun. Sedangkan untuk jurusan-jurusan profesional di Aligarh Muslim University berkisar antara USD $ 1.000/- hingga USD $ 2.000/- per tahun. Jawaharlal Nehru University menetapkan USD $ 750/- per semester bagi mahasiswa asing yang mengambil jurusan-jurusan ilmu sosial dan USD $ 850/- bagi mereka yang mengambil jurusan-jurusan professional.  B. Beasiswa Pemerintah India  Pemerintah India juga memberikan beasiswa melalui program Indian Council for Cultural Relation (ICCR), dan beasiswa ini diberikan kepada seluruh pelajar yang berasal dari berbagai negara termasuk Indonesia. Adapun cara untuk memperoleh beasiswa ini, terlebih dahulu anda harus mendapatkan formulir beasiswa yang tersedia pada Atase Pendidikan dan Informasi, Kedutaan Besar Republik India di Jakarta dan di Konsulat Jenderal Republik India di Medan. Pembukaan pendaftaran beasiswa tersebut biasanya di mulai dari bulan Januari hingga pertengahan Pebruari setiap tahunnya. Bila anda belajar di India disponsori oleh Pemerintah India, maka semua biaya pendidikan ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah India kecuali biaya transportasi anda dari Indonesia ke India dan biaya transportasi dari India kembali ke tanah air.   V. Konsentrasi Pelajar Indonesia Universitas- universitas yang menjadi tempat konsentrasi belajar mahasiswa dan mahasiswi Indonesia selama ini adalah Delhi University di New Delhi; Jamia Millia Islamia di New Delhi; Jawaharlal Nehru University di New Delhi; Jamia Hamdard di New Delhi; Aligarh Muslim University di Aligarh, Uttar Paradesh (UP); Lucknow University di Lucknow (UP); Agra University di Agra (UP); Indian Istitute of Technology (IIT) Roorkee di Roorkee (UP); Bangalore University di Bangalore; Hyderabad University di Hyderabad; dan Pune University di Pune.   Bahan Bacaan: 

  1. Chandra, Bipan, and Mukherjee, Mridula, and Mukherjee, Aditya. India After Independence 1947-2000. New Delhi: Penguin Books, 2000.
  2. Foreign Students Outlook, Vol. I Issue I 2004-2005. New Delhi: Jamia Millia Islamia, 2004.
  3. Iqbal Khanam. “India’s Policy of Non-Aligment and National Security,” Indian Journal of Politics, XVI, 3-4. Aligarh: Aligarh Muslim University, 1982.
  4. Republik India: Basic Info 1986. New Delhi: KBRI New Delhi.
  5. Special Information Bulletin 2006-2007. Aligarh: Aligarh Muslim University, 2006.

Ket. Foto: Penulis (kiri) bersama rekan-rekan PPI lainnya dalam acara Halal Bihalal di Hari Raya Idul Fitri 1427 H.

Kuliah di India

Kuliah di India? “Nehi, Nehi” …

KEDUA orangtua Dodo, kini 26 tahun, setengah tidak percaya saat ia memutuskan akan meneruskan kuliah di India. Dosen-dosennya tidak mendukung. Kawan-kawannya di kampus juga dibuatnya heran. “Sekolah di India? Nehi, nehi…!” kata kawan-kawannya berkomentar.

SEMULA jika ditanya keberadaan Dodo, orangtuanya pun hanya menjawab bahwa Dodo tengah belajar di luar negeri. Nama India tidak pernah disebut-sebut.

“Hampir tidak ada yang memberikan dukungan saya kuliah di India,” kata Sotar Dodo, alumnus Jurusan Akuntansi Universitas Trisakti, Jakarta.

Lulus dari Trisakti tahun 2001, Dodo semula bermaksud meneruskan kuliah di Filipina. Akan tetapi, gara-gara krisis, biaya untuk kuliah ke Filipina jadi membengkak. Apabila tetap ke Filipina, ia harus menunda keinginannya melanjutkan studi.

Saat itulah ia diberi tahu seorang kawannya, anak diplomat Indonesia di New Delhi, tentang perguruan tinggi di India yang tidak kalah bagus dengan perguruan tinggi di Australia, Inggris, maupun Amerika Serikat. Uang kuliah dan biaya hidupnya pun relatif murah. Dodo tertarik dan nekat memutuskan berangkat ke India.

Saat memulai kuliah di India, ia sempat terkaget-kaget. Boro-boro seperti Kampus Trisakti yang metropolis. Kuliah ber-AC, restoran cepat saji, dan tempat fitness di kampus, mau nonton film atau mencari barang-barang bermerek tinggal menyeberang ke depan kampus. Kemewahan seperti itu tidak akan ditemui di sebagian besar kampus di India. Apalagi di kota kecil Agra, kota tempat Dodo kuliah.

“Di Trisakti saya kuliah ber-AC, dosen mengajar pakai slide atau power point, semua ruang kelas pakai whiteboard. Begitu ke sini, kayak kembali ke SD inpres! Kembali ke kapur dan papan tulis. Bangku pun harus dibersihkan dulu sebelum duduk,” ujarnya.

Dodo baru lega ketika masa kuliah dimulai. Pendidikan di India memang lebih mementingkan isi daripada kulitnya. Meski gedung-gedungnya kusam, hampir seluruh dosen yang mengajar di kampusnya bergelar doktor.

Mereka benar-benar mengajar, tidak pernah mewakilkan tugas mengajar kepada asistennya. Dosen-dosen itu juga begitu gampang ditemui. Dodo yang berangkat ke India atas biaya sendiri saat ini telah menyelesaikan studi master di bidang perdagangan dan berniat melanjutkan ke tingkat doktor.

Penampilan fisik kampus-kampus perguruan tinggi di India memang tidak menjanjikan.

“Perguruan tinggi di India memang tidak sibuk dengan urusan lipstik. Bagi mereka yang penting substansi pendidikannya. Kecantikan dari dalam,” kata Wisnu Setiawan, dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta yang tengah menempuh studi master bidang arsitektur di New Delhi.

Kampus Indian Institute of Technology Delhi yang berada di peringkat keempat sebagai universitas terbaik versi Asiaweek pada tahun 2000 juga sangat bersahaja. Dinding-dindingnya kusam, sebagian lapisan semen pada tangga menuju ke lantai atas ambrol, dan tidak ada mesin pendingin sekalipun panas di New Delhi bisa ekstrem.

Penampilan fisik yang sangat sederhana itu jamak dijumpai di kampus-kampus perguruan tinggi di India. Tetapi akses memperoleh ilmu berlimpah. Perpustakaan lengkap dengan koleksi buku dan jurnal terbaru, komputer terkoneksi internet dapat diakses gratis oleh mahasiswa, buku mudah dicari dan murah.

“Dosen-dosen di sini sangat memerhatikan mahasiswa. Mereka mudah ditemui. Semua pengajar saya bergelar doktor. Kalau di Indonesia sulit ditemui doktor datang sendiri mengajar mahasiswa S1,” kata Zamashari (24), yang baru saja menyelesaikan studi Islam di Universitas Jamia Millia Islamia, New Delhi.

INDIA tidak diragukan lagi reputasinya dalam mengelola pendidikan tinggi. Di bidang kedokteran, manajemen, sains dan teknologi, keberhasilan pendidikan tinggi di India telah diakui secara internasional. Sekolah-sekolah kedokteran di India dikelola dengan standar internasional sehingga lulusannya laku bekerja ke luar negeri. Sekitar 30 persen dokter yang bekerja di Amerika Serikat berasal dari India.

Di bidang teknik dan teknologi informasi, India adalah tempatnya. Tiap tahun perguruan tinggi di India menghasilkan 200.000 ahli peranti lunak. Keahlian mereka juga diakui secara internasional. Di Microsoft, raksasa perusahaan peranti lunak di Amerika Serikat, tidak kurang 30 persen pekerjanya berasal dari India meski Bill Gates hanya menyebut angka sekitar 20 persen.

India memiliki tujuh institut teknologi yang telah ditetapkan parlemen sebagai pusat unggulan nasional. Tujuh institut teknik itu merupakan bagian dari 13 perguruan tinggi yang ditetapkan sebagai pusat unggulan nasional yang disokong dananya oleh pemerintah pusat.

Dalam penyelenggaraan pendidikannya, Indian Institute of Technology (IIT) telah mencapai kelas dunia. Untuk warga India, biaya kuliahnya hanya sekitar 30.000 rupee, atau sekitar Rp 6 juta per tahun dan sebagian besar mahasiswanya tinggal di asrama. Itu pun sekitar 80 persen mahasiswanya memperoleh beasiswa.

“Sebagian besar mahasiswa kami tidak perlu merogoh kantong sendiri untuk kuliah,” kata Prof Khusal Sen, pengajar jurusan tekstil IIT Delhi.

Di IIT Delhi, sekitar 20 persen lulusan program S1-nya memilih meneruskan studi. Sisanya langsung bekerja. Sekitar 80 persen di antaranya menyerbu pasar kerja luar negeri, terutama Amerika Serikat.

Bagi warga India, IIT Delhi bisa membalikkan tangan nasib seseorang, dari golongan bawah menjadi kelas menengah atas. Menurut Arnav Sinha, mahasiswa tahun terakhir di Jurusan Teknik Kimia IIT Delhi, bila langsung bekerja di India setelah lulus ia akan memperoleh gaji sekitar 400.000 rupee (Rp 80 juta per tahun) yang akan menempatkan dia dalam posisi kelas menengah atas di India.

Reputasi yang mendunia itu juga mulai dicapai sekolah-sekolah bisnis di India. Dalam beberapa tahun terakhir enam institut manajemen India melejit reputasinya karena mengadopsi materi dan cara pengajaran yang berkelas internasional. Indian Institute of Management di Ahmedabad, misalnya, hampir disejajarkan sekolah bisnis di Harvard. Lulusan terbaiknya diperebutkan perusahaan-perusahaan top di Amerika Serikat.

Di balik persoalan kemiskinan, buta huruf, dan angka putus sekolah di tingkat pendidikan dasar yang tinggi, India menghasilkan ilmuwan-ilmuwan terbaik di dunia. Sederet pemenang Nobel lahir dari negara berpenduduk sekitar satu miliar itu. Sebutlah Amartya Sen pemenang Nobel bidang ekonomi, Subrawanian dan Cancrashekar Venkantaraman di bidang fisika, serta Hargobind Khorana di bidang kedokteran. Belum lagi Ibu Theresa pemenang Nobel bidang perdamaian dan Rabindranath Tagore di bidang sastra.

REPUTASI gemilang perguruan tinggi di India itu belum diperhitungkan orang-orang Indonesia yang ingin belajar ke luar negeri. Tiap tahun belasan ribu mahasiswa Indonesia lebih memilih perguruan tinggi di Australia, Inggris, atau Amerika Serikat. Tidak jarang pilihan itu asal ke Australia, Inggris, atau Amerika Serikat tanpa ambil pusing dengan reputasi institusi dan kualitas program studi yang dipilih. Mahasiswa Indonesia yang belajar ke India jumlahnya hanya puluhan, itu pun sebagian besar berangkat ke India karena memperoleh beasiswa.

Dalton Sembiring, Konsul Kebudayaan Indonesia di New Delhi, mengatakan pendidikan tinggi di India merupakan alternatif yang baik untuk melanjutkan studi. Sistem pendidikan tinggi di India telah diintegrasikan dengan standar internasional. Sayangnya tidak banyak orang Indonesia yang mau belajar ke India, apalagi untuk bidang teknik dan teknologi informasi. Padahal, kata Suhadi M Salam-diplomat Indonesia di New Delhi- orang-orang India sangat menguasai teknologi. “Di Amerika Serikat atau Australia sekalipun, banyak pengajar teknologi informasinya berasal dari India,” kata Suhadi.

Biaya kuliah dan biaya hidup di India masih tergolong murah untuk ukuran mahasiswa asing. Untuk mahasiswa asing, biaya kuliah S1 rata-rata hanya sekitar 500 dollar AS (kurang dari Rp 5 juta) setahun. Untuk program magister bisnis, biayanya masih berkisar Rp 40 juta per tahun, sudah termasuk biaya hidup di asrama.

Sayangnya, institusi pendidikan tinggi di India kebanyakan masih konservatif dalam menawarkan pendidikannya untuk mahasiswa asing. Tidak seperti perguruan tinggi di Australia, Eropa, dan Amerika Serikat yang telah mengemas pendidikan tingginya menjadi industri didukung dengan petugas pemasaran yang agresif, pendidikan tinggi di India lebih bersikap menunggu.

Prof Khusal Sen dari Departemen Tekstil IIT Delhi mengatakan, lembaganya tidak memberikan perlakuan khusus kepada mahasiswa asing. Mahasiswa asing bisa saja masuk IIT Delhi asal lolos ujian saringan pertama dan ujian esai yang diikuti tidak kurang dari 270.000 peminat.

Akan tetapi, sejumlah perguruan tinggi lainnya seperti IIT Roorkee dan Universitas Jamia Milia Islamia menawarkan prosedur berbeda bagi mahasiswa asing. Menurut Direktur IIT Roorkee Dr Prem Vrat, mahasiswa asing yang ingin masuk IIT Roorkee cukup mengirimkan lamaran tanpa harus mengikuti seleksi masuk bersama ratusan orang India lainnya, meski kualifikasi untuk mengikuti studi di perguruan tinggi itu tetap disyaratkan.

India memang menjanjikan banyak untuk mereka yang ingin mencari ilmu. Akan tetapi, untuk orang-orang muda yang ingin mencari kenikmatan hidup, India bukan tempatnya. Jalanan di New Delhi dan kota-kota lain di India tidak lebih beradab dari Jakarta. Lomba bunyi klakson tidak pernah sepi di jalanan. Permukiman kumuh, orang miskin, dan pengemis ada di mana- mana. Mal dan sinepleks hanya ada satu dua di dalam New Delhi. Di luar sejumlah kecil enklaf yang dihuni superkaya, India masih berwajah miskin.

“Jangan harap bisa hidup bermewah-mewah kalau mau belajar ke India,” kata Suhadi.(P BAMBANG WISUDO)
Sumber: Kompas