India yang (Sengaja) Dilupakan?

Oleh: Pan Mohamad Faiz*

Note: Tulisan ini juga dimuat pada KabarIndonesia

Pentingnya kehadiran Perwakilan RI di seluruh dunia merupakan suatu keniscayaan. Selain sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Indonesia di luar negeri, Perwakilan RI juga dapat menjadi ujung tombak kerjasama antarnegara di berbagai bidang, mulai dari kerjasama perdagangan, politik, pendidikan, hingga sosial budaya.

Namun apa yang akan terjadi bilamana suatu Perwakilan RI tidak mempunyai Kepala Perwakilan (Duta Besar) yang memiliki fungsi penting sebagai pengambil kebijakan strategis di negara yang bersangkutan. Ibarat perahu layar tanpa nahkoda, tentunya berbagai kebijakan penting yang seharusnya dapat diambil seakan kehilangan arah dan tak menentu.Kondisi inilah yang terjadi dalam institusi Perwakilan RI untuk India untuk saat ini. Sudah setahun lebih Perwakilan RI di New Delhi tidak memiliki ”Kepala Keluarga”. Padahal, posisi ini penting sekali untuk menjaga hubungan bilateral dan kerjasama kedua belah pihak. Terjadinya kekosongan posisi Duta Besar RI untuk India yang cukup lama tersebut telah menyebabkan kerugian materil maupun imaterial. Berbagai kegiatan multi-internasional yang seharusnya dapat kita pelihara dan tingkatkan, mulai dari kedatangan Wakil Presiden RI hingga berbagai penandatanganan kerjasama antara Indonesia-India, tidak ada satupun yang dihadiri oleh sang Duta Besar. Inilah yang menyebabkan terjadinya keprihatinan cukup mendalam dari segenap warga negara Indonesia di India, khususnya mereka yang kini sedang menempuh pendidikan di seluruh penjuru negeri India.Memang benar saat ini kita mempunyai Kuasa Ad Interim (KUAI) sebagai pemangku jabatan sementara selama posisi Duta Besar belum diangkat. Namun yang perlu diingat di sini adalah bahwa kita sedang ”bermain” dengan negara sekaliber India. Dengan berbagai keunggulannya saat ini, India telah menjadi pemain global di berbagai sektor kehidupan dengan penguasaan teknik diplomasi tingkat tinggi. Hal ini terbukti dengan ”membanjirnya” kunjungan kenegaraan Kepala Pemerintahan maupun kerjasama dari negara-negara Super Power, seperti Amerika, Rusia, Cina, Perancis dan Jepang dalam satu tahun belakangan ini.Berulang kali ketidakhadiran orang nomor satu Perwakilan RI dalam peringatan besar India juga telah menimbulkan sedikit keraguan akan keseriusan Pemerintah Indonesia dalam membina hubungan kerjasama dengan India. Padahal, bersama-sama dengan Cina, India kini telah menjadi ”the Asian Tigers” dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan nilai investasi yang amat menjanjikan.Bahkan jika kita rajut lebih mendalam, antara Indonesia dengan India sebenarnya telah mempunyai sejarah perjuangan dan jalinan kerjasama yang telah terbina sejak lama. Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana para cendekiawan Indonesia di masa-masa perjuangan kemerdekaan belajar dan berguru bersama dengan para Gandhian di negeri India guna menolak terjadinya kolonialisasi negara-negara barat. Namun kini yang terjadi, sepertinya Indonesia seringkali membuang muka ketika mendengar kata ”India”, atau jika tidak mau kita katakan ”dengan sengaja” melupakan India.

Proses penyeleksian Duta Besar oleh Pemerintah Pusat untuk kemudian diserahkan kepada Komisi I DPR-RI untuk dipilih, sudah seharusnya mulai diperhitungkan dan dijaring dari jauh-jauh hari sebelum selesainya masa kerja Dubes terdahulu. Hal ini tentunya berlaku bukan hanya pada kasus India, tetapi pada Perwakilan RI di seluruh dunia. Hasilnya, hingga saat ini pun belum juga muncul penyerahan nama-nama calon pengisi Duta Besar RI untuk India guna dipilih.

Tujuh Kepala Perwakilan RI yang telah dilantik sebulan yang lalu, tidak ada satupun yang ditempatkan di India. Rasa-rasanya terlalu banyak kesempatan berharga yang terbuang sia-sia selama terjadinya kekosongan ini. Tentunya kita berharap, panjangnya proses pemilihan calon Duta Besar RI untuk India, merupakan suatu bentuk kepedulian dan keseriusan yang sungguh-sungguh dari Pemerintah untuk mendapatkan Duta Besar yang benar-benar tough and smart untuk diterjunkan di medan diplomasi sekelas India.

Bukan hanya kemampuan manajemen institusi kepemerintahan saja yang diperlukan, tetapi calon yang terpilih harus juga menampilkan kepiawaiannya dalam melakukan komunikasi aktif dan diplomasi total dengan para pejabat India selama penugasannya. Jika tidak, alih-alih keinginan agar terjadinya peningkatan kerjasama bilateral di multibidang antara Indonesia dan India, namun justru yang terjadi adalah India akan semakin meninggalkan Indonesia sebagai ”sahabat lama”-nya dalam konteks perjuangan negara-negara berkembang di dunia. Semoga hal ini dapat menjadi perhatian bagi para pengambil kebijakan di tanah air.

* Penulis adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Perhimpunan Pelajar Indonesia di India (PPI-India). Tulisan ini merupakan pendapat pribadi. Penulis dapat dihubungi melalui http://jurnalhukum.blogspot.com

Advertisements

Bercermin pada Mutu Pendidikan India

 

Oleh: Ragimun 

 

Dimuat pada Harian Bisnis Indonesia (12/04/07). 

 

Permasalahan pendidikan di hampir semua negara berkembang umumnya sama, mulai dari persoalan biaya sekolah, buta huruf, putus sekolah, kurikulum hingga anggaran pendidikan. Akan tetapi, semua bisa berubah asalkan pemerintah dan semua unsur terkait berkomitmen kuat untuk memajukan pendidikan di negara mereka masing-masing.

Tengok saja pendidikan di India. Secara fisik, bangunan maupun infrastruktur pendidikan tinggi di negeri itu sungguh memprihatinkan. Bangunan kusam, berdebu, terkesan semrawut. Juga sering kita temui tumpukan sampah atau puing berserakan di pinggir jalan atau gang. Tapi jangan ditanya soal mutu pendidikan tinggi negara berpenduduk hampir 1,2 miliar ini. Banyak perguruan tinggi di India sudah memiliki reputasi internasional, tidak kalah dengan perguruan tinggi di Australia, Inggris, maupun Amerika Serikat (AS). Beberapa bidang yang menonjol a.l. kedokteran, teknologi informasi (TI), teknik dan manajemen.

Beberapa institut di sana sudah menerapkan kurikulum dan metode proses belajar mengajar seperti halnya model Harvard. Banyak pula lulusan perguruan tinggi dari India laku keras di beberapa negara Eropa maupun AS. Perusahaan sekaliber Microsoft sendiri sudah percaya dan banyak memakai lulusan perguruan tinggi dari India. Banyak dokter bekerja di berbagai belahan dunia seperti AS dan Inggris. Begitu juga ahli teknik banyak tersebar di berbagai negara asing. Di Kota Dubai atau Singapura banyak pula dijumpai lulusan perguruan tinggi dari India, dan ada ilmuwan maupun dosen yang mengajar di berbagai negara maju.

Kita masih ingat beberapa ilmuwan terkenal seperti pemenang nobel bidang ekonomi Amartya Sen. Demikian juga bidang fisika yaitu Subrawanian dan Cancrashekar Venkantaraman, di bidang kedokteran kita kenal Hargobind Khorana. Bidang sastra, Rabindranath Tagore. Dan tidak lupa pemenang Nobel Perdamaian Bunda Theresa.

Biaya murah

Pendidikan tinggi di India relatif murah. Untuk mengambil master ilmu sosial misalnya, hanya butuh 30.000 rupees per tahun (sekitar Rp6 juta-an). Faktor pendukung lainnya adalah penerapan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di hampir seluruh perguruan tinggi di India. Hal ini juga punya andil dalam peningkatan mutu perguruan tinggi di negeri Mahatma Gandhi ini. Maka tidak heran lulusannya pun sudah tidak canggung lagi masuk ke pasar global.

Pada intinya, India lebih mementingkan isi (content) dibandingkan penampilan dan performa sebuah perguruan tinggi. Rata-rata dosen mereka sudah menyandang doktor. Banyak dari mereka merupakan lulusan AS dan Eropa. Jarang kita temui seorang profesor mewakilkan kepada asistennya untuk mengajar, mereka benar-benar profesional. Akses dengan dosen juga sangat mudah. Jarang kita temui dosen yang ngobjek ke sana kemari. Perpustakaan lengkap, banyak hasil riset, buku murah, dan metode dialogis merupakan metode yang jamak diterapkan di sana.

Mahasiswa di sana sudah terbiasa berkompetisi. Kondisi pendidikan di India sangat jauh berbeda dengan kampus-kampus di Tanah Air. Kampus yang berdiri megah yang terkadang full AC, dengan tempat parkir yang luas dan sederet mobil kinclong, ditambah dengan aroma mahasiswa yang bergaya metropolis. Tapi fasilitas fisik yang mentereng itu tidak diimbangi dengan mutu yang memuaskan. Lalu, apa yang salah dalam sistem pendidikan kita?

Kita cenderung lebih mementingkan penampilan daripada isi. Ini berbeda 180 derajat dengan India yang justru lebih mementingkan isi daripada penampilan. Jika kita analogikan sebagai sebuah rumah, sudah saatnya Indonesia melengkapi perabot atau isi rumah ketimbang disibukkan dengan pengecatan penampilan rumah itu sendiri. Sebenarnya pemerintah telah bertekad untuk meningkatkan mutu pendidikan dan menyejajarkannya dengan negara lain. Itu bisa dibuktikan dengan peningkatan anggaran pendidikan dalam APBN, yang untuk tahun ini mencapai Rp44 triliun. Akan tetapi, peningkatan anggaran pendidikan tersebut tidak diikuti dengan kesiapan dunia pendidikan itu sendiri. Apalagi birokrat pendidikan kita tidak bisa mengoptimalkannya, asal sekadar habis anggaran.

Perbaiki diri

Sudah saatnya Indonesia melakukan langkah nyata dalam menghadapi era pendidikan bertaraf global guna menutup ketertinggalan. Perlu dikaji penerapan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di perguruan tinggi kita. Berapa banyak lulusan kita yang pintar, namun lemah dalam penguasaan bahasa asing, khususnya Inggris. Meski demikian, kita tidak perlu meninggalkan bahasa Indonesia sebagai bahasa patriotik kita. Tidak heran jika banyak orang tua yang lebih suka menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri. Masalah mendasar pendidikan kita adalah inkonsistensi antara perencanaan dan pelaksanaan di lapangan. Pemerintah seharusnya benar-benar berkomitmen untuk membawa dunia pendidikan kita lebih maju dengan mengerahkan segala potensinya, di mana salah satunya bisa diukur dari peningkatan anggaran tadi. Mutu pendidikan yang berkelanjutan harus terus ditingkatkan seiring dinamika dan perubahan eksternal serta cepatnya tuntutan kebutuhan dunia usaha. Bongkar pasang kurikulum, sasaran, metode karena pergantian menteri mestinya tidak terjadi lagi, sehingga tidak terjadi opportunity lost yang terlalu panjang.

Akhirnya, sudah waktunya pemerintah sebagai regulator beserta segenap elemen masyarakat untuk bahu-membahu, serius dan komitmen tinggi untuk membawa pendidikan kita ke arah yang lebih maju. Untuk mewujudkannya kita harus berani dan mau belajar dari negara mana pun yang lebih maju, termasuk
India tentunya.

* Mahasiswa pada Post Graduate Programme in International Management, International Management Institute, New Delhi, India (Foto: Kiri)