Why Should I Study in India?

Course/Major Available: 

Medicine, Dentistry, Designing, Travel Tourism, Hospitality, Buddhist Studies, Social Work, Islamic Studies, Arabic Language, Yoga, Sport, Dietics and Nutrition, Bio Technology, Bio Science, Pharmacy, Law, Education, Engineering (180 Specialities), IT and Computer Science (dozens of specialities), Languages (around 44 languages), Health and Para Medical Course (around 40 specialities), Traditional & Alternative Medical Courses (dozen of specialities), Education (dozen of courses), Agriculture (dozen specialities), Accounts, Administration and Management (dozens of specialities), Commerce (hundreds of specialities), all Arts Subjects (thousands of specialities), Science (thousands of specialities/majors).

Level/Training Available: 

Study Levels: Certificate / Diploma / Bachelor / P.G. Certificate / P.G. Diploma / Master / M.Phil. / Ph.D/ / Post Doctorate / Others.

 

Training Levels: Certificate / Diploma / English Language Course / Others.

 

And Also: Memberships / Fellowships among many others.

Mode of Study: 

         Regular (Full Time),

         Part Learning,

         Distance Learning,

         Correspondence,

         Private Studies,

         External,

         Through Research,

         Fellowship / Membership,

         Online,

         Others.

University/Colleges Available: 

Hundreds of Universities and Thousand of Colleges all over India, at all major cities and at almost all important Academic Destinations. (Indonesian Students are mostly in New Delhi, Aligarh, Agra, Pune, Roorkee, Mumbai, Bangalore, etc).

Kind of Accommodation Available in India: 

Universities & Colleges (Hostels/Dormitories) , Paying Guest Accommodations, Private Hostels, Private Accommodations.

 

The most common and most popular accommodation in India is the last one, i.e. Renting Private Accommodation in Residential Areas (Range Rp. 500.000 – Rp. 1.600.000).

WHY INDIA?

Financial Reasons: 

– Very “Reasonable” Fee Structure (Mostly it is cheaper than Indonesian Univ.)

– Very “Moderate and Affordable” Living Expenses ( +/- Rp. 1.200.000 )

– Very “Affordable” Books and Study Materials ( Discount for Student 20%-50%)

– Very “Affordable” Transport Systems (Free for Student who has a “Bus Card”)

Admission & Academic Reasons:

         High standard of Education and International Recognition;

         English Medium (The Language of the Millennium);

         Availability of almost all course /Majors and Sub-specialities at all levels through almost all modes of studies;

         Specialized and Rare Educational Opportunities;

         Well Qualified Teachers (minimum requirement to be a teacher is Dr. or Ph.D);

         Duration of Bachelor Degree in most Courses is only Three years and Ph.D. is Two to Three years;

         India has more than 345 Universities / Academic Institutions and more than 18.000 Colleges / Institutes, teaching more than 16.000 different Courses.

Social, Political and Other Reasons:

         Diversity in Culture and Religions;

         Economic and Political Stability;

         Easy Visa, either from Indian Embassy or Indonesian Embassy;

         No Discrimination on Religion, Culture or Colors grounds;

         Availability of all kinds of climates to suit the requirements of all students, such as summer, winter (snow in North India), autumn, etc.

         Much closer geographically and culturally to most Indonesian students, only 6 to 8 hours from
Indonesia;

         The biggest Democracy in the World.

What After Graduation:

         Foreign Students graduating from India will have the strength of the English Medium Education and that will make them stand tall and strong among others in this competitive world.

         The Foreign student graduating from India with different Religions, Languages and different Cultures will become an international man, which is the main requirement of the millennium since the world is becoming one country.

         After graduating from India, Foreign Student can put what they learn into practical use in
Indonesia because we are developing countries or the third world countries.

         Very well recognized International Education System around the World.

         Regional & International Education Hub.

         Second largest Education System in the World

         The Seventh Largest Industrial Economy in the World

         High Standard of Education and International Recognition

         Twenty Five Million Indian and people of Indian origin are working and living abroad, many of them with High Qualifications; they are the Teachers, Nurses, Programmers, Designers, Doctors, Engineers, Scientists etc.

         A look at local Newspaper Advertisements will show that Americans, Europeans and Japanese as well as others are desperate to recruit Indian Engineers, Teachers, Scientists, Doctors and Nurses etc. And on many occasions they have changed their Immigration rules to accommodate Indian Professionals and Academicians etc.

         Indian Educated Engineers dominated Silicon Valley. In 2001 more than 40% of the venture capital funded technology start up Companies in Silicon Valley had at least one Indian Founder.

         More than 15% Teaching Faculties in US Universities have their under graduate degree from India and perhaps more than that in UK.

         More than 15% of Physician in America is Indians and perhaps much more in UK.

         The biggest Companies in America are having a big chunk of Indians; 25% of NASA Employees are India Qualified, 23% of Microsoft Employees are Indian Qualified, 26% of IBM Employees are India Qualified and 17% of Intel Employees are India Qualified.

         One of the greatest Engineering Monumental structure in the World is Taj Mahal which has been built by Indians centuries ago.

         India has manufactured Atom Bomb, Airplanes, and Indians have reached the space.

Source: TAEC India

-PMF-

Picture Note: Indonesian Student Association in India (PPI India) went to Manali (one of Himalaya Valleys) for Winter Tour 2007.

Bercermin pada Mutu Pendidikan India

 

Oleh: Ragimun 

 

Dimuat pada Harian Bisnis Indonesia (12/04/07). 

 

Permasalahan pendidikan di hampir semua negara berkembang umumnya sama, mulai dari persoalan biaya sekolah, buta huruf, putus sekolah, kurikulum hingga anggaran pendidikan. Akan tetapi, semua bisa berubah asalkan pemerintah dan semua unsur terkait berkomitmen kuat untuk memajukan pendidikan di negara mereka masing-masing.

Tengok saja pendidikan di India. Secara fisik, bangunan maupun infrastruktur pendidikan tinggi di negeri itu sungguh memprihatinkan. Bangunan kusam, berdebu, terkesan semrawut. Juga sering kita temui tumpukan sampah atau puing berserakan di pinggir jalan atau gang. Tapi jangan ditanya soal mutu pendidikan tinggi negara berpenduduk hampir 1,2 miliar ini. Banyak perguruan tinggi di India sudah memiliki reputasi internasional, tidak kalah dengan perguruan tinggi di Australia, Inggris, maupun Amerika Serikat (AS). Beberapa bidang yang menonjol a.l. kedokteran, teknologi informasi (TI), teknik dan manajemen.

Beberapa institut di sana sudah menerapkan kurikulum dan metode proses belajar mengajar seperti halnya model Harvard. Banyak pula lulusan perguruan tinggi dari India laku keras di beberapa negara Eropa maupun AS. Perusahaan sekaliber Microsoft sendiri sudah percaya dan banyak memakai lulusan perguruan tinggi dari India. Banyak dokter bekerja di berbagai belahan dunia seperti AS dan Inggris. Begitu juga ahli teknik banyak tersebar di berbagai negara asing. Di Kota Dubai atau Singapura banyak pula dijumpai lulusan perguruan tinggi dari India, dan ada ilmuwan maupun dosen yang mengajar di berbagai negara maju.

Kita masih ingat beberapa ilmuwan terkenal seperti pemenang nobel bidang ekonomi Amartya Sen. Demikian juga bidang fisika yaitu Subrawanian dan Cancrashekar Venkantaraman, di bidang kedokteran kita kenal Hargobind Khorana. Bidang sastra, Rabindranath Tagore. Dan tidak lupa pemenang Nobel Perdamaian Bunda Theresa.

Biaya murah

Pendidikan tinggi di India relatif murah. Untuk mengambil master ilmu sosial misalnya, hanya butuh 30.000 rupees per tahun (sekitar Rp6 juta-an). Faktor pendukung lainnya adalah penerapan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di hampir seluruh perguruan tinggi di India. Hal ini juga punya andil dalam peningkatan mutu perguruan tinggi di negeri Mahatma Gandhi ini. Maka tidak heran lulusannya pun sudah tidak canggung lagi masuk ke pasar global.

Pada intinya, India lebih mementingkan isi (content) dibandingkan penampilan dan performa sebuah perguruan tinggi. Rata-rata dosen mereka sudah menyandang doktor. Banyak dari mereka merupakan lulusan AS dan Eropa. Jarang kita temui seorang profesor mewakilkan kepada asistennya untuk mengajar, mereka benar-benar profesional. Akses dengan dosen juga sangat mudah. Jarang kita temui dosen yang ngobjek ke sana kemari. Perpustakaan lengkap, banyak hasil riset, buku murah, dan metode dialogis merupakan metode yang jamak diterapkan di sana.

Mahasiswa di sana sudah terbiasa berkompetisi. Kondisi pendidikan di India sangat jauh berbeda dengan kampus-kampus di Tanah Air. Kampus yang berdiri megah yang terkadang full AC, dengan tempat parkir yang luas dan sederet mobil kinclong, ditambah dengan aroma mahasiswa yang bergaya metropolis. Tapi fasilitas fisik yang mentereng itu tidak diimbangi dengan mutu yang memuaskan. Lalu, apa yang salah dalam sistem pendidikan kita?

Kita cenderung lebih mementingkan penampilan daripada isi. Ini berbeda 180 derajat dengan India yang justru lebih mementingkan isi daripada penampilan. Jika kita analogikan sebagai sebuah rumah, sudah saatnya Indonesia melengkapi perabot atau isi rumah ketimbang disibukkan dengan pengecatan penampilan rumah itu sendiri. Sebenarnya pemerintah telah bertekad untuk meningkatkan mutu pendidikan dan menyejajarkannya dengan negara lain. Itu bisa dibuktikan dengan peningkatan anggaran pendidikan dalam APBN, yang untuk tahun ini mencapai Rp44 triliun. Akan tetapi, peningkatan anggaran pendidikan tersebut tidak diikuti dengan kesiapan dunia pendidikan itu sendiri. Apalagi birokrat pendidikan kita tidak bisa mengoptimalkannya, asal sekadar habis anggaran.

Perbaiki diri

Sudah saatnya Indonesia melakukan langkah nyata dalam menghadapi era pendidikan bertaraf global guna menutup ketertinggalan. Perlu dikaji penerapan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar di perguruan tinggi kita. Berapa banyak lulusan kita yang pintar, namun lemah dalam penguasaan bahasa asing, khususnya Inggris. Meski demikian, kita tidak perlu meninggalkan bahasa Indonesia sebagai bahasa patriotik kita. Tidak heran jika banyak orang tua yang lebih suka menyekolahkan anak-anaknya ke luar negeri. Masalah mendasar pendidikan kita adalah inkonsistensi antara perencanaan dan pelaksanaan di lapangan. Pemerintah seharusnya benar-benar berkomitmen untuk membawa dunia pendidikan kita lebih maju dengan mengerahkan segala potensinya, di mana salah satunya bisa diukur dari peningkatan anggaran tadi. Mutu pendidikan yang berkelanjutan harus terus ditingkatkan seiring dinamika dan perubahan eksternal serta cepatnya tuntutan kebutuhan dunia usaha. Bongkar pasang kurikulum, sasaran, metode karena pergantian menteri mestinya tidak terjadi lagi, sehingga tidak terjadi opportunity lost yang terlalu panjang.

Akhirnya, sudah waktunya pemerintah sebagai regulator beserta segenap elemen masyarakat untuk bahu-membahu, serius dan komitmen tinggi untuk membawa pendidikan kita ke arah yang lebih maju. Untuk mewujudkannya kita harus berani dan mau belajar dari negara mana pun yang lebih maju, termasuk
India tentunya.

* Mahasiswa pada Post Graduate Programme in International Management, International Management Institute, New Delhi, India (Foto: Kiri)