Rekomendasi Konferensi International Pelajar Indonesia 2007

HASIL DAN REKOMENDASI

KONFERENSI INTERNASIONAL PELAJAR INDONESIA (KIPI) 2007

Sydney, 8-9 September 2007 

Setelah melakukan konferensi selama dua hari, kami peserta Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI) 2007  bersepakat untuk membuat jejaring PPI se-dunia melalui pembentukan media interaksi dan komunikasi, di antaranya dengan pembuatan situs (website) dan senarai surat elektronik (mailing list) dalam rangka membentuk Jejaring Organisasi Pelajar Indonesia di Luar Negeri (Overseas Indonesian Students Associations Alliance) yang terbuka untuk seluruh organisasi pelajar Indonesia di luar negeri. 

 

Setelah mencermati kondisi bangsa Indonesia dalam membangun kemampuan dan daya saing, maka kami merekomendasikan kepada pemerintah Republik Indonesia hal-hal sebagai berikut:

1.      Memetakan dan mendayagunakan aset intelektual, profesional, dan komunitas Indonesia di luar negeri melalui pembentukan Global Networking Indonesia sebagaimana yang telah dilakukan oleh negara-negara berkembang lainnya seperti Cina dan India.

2.      Mengoptimalkan potensi tenaga professional, terdidik, dan terlatih Indonesia serta mempromosikannya pada pasar kerja luar negeri dengan cara bekerja sama dengan negara lain.

3.      Membebaskan fiskal bagi seluruh pelajar yang akan melanjutkan pendidikan ke luar negeri.

4.      Menyediakan skema pinjaman lunak dan beasiswa untuk menunjang partisipasi mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan pendidikan baik di dalam maupun di luar negeri.

5.      Menjamin dan memfasilitasi penyediaan buku pendidikan yang berkualitas dengan harga yang terjangkau.

6.      Memperbesar alokasi dana riset dan pengembangan di perguruan tinggi dan instansi   pemerintah secara kompetitif.

7.      Merealisasikan anggaran pendidikan 20% dari APBN melalui pengelolaan yang efektif dan metode perhitungan yang transparan.

8.      Mengintensifkan upaya diplomasi dan membuat kebijakan strategis untuk meningkatkan beasiswa dari negara-negara sahabat dan perusahaan-perusahaan swasta.

9.      Mempermudah proses akreditasi ijazah perguruan tinggi luar negeri yang diakui dengan mendelegasikan prosesnya kepada atase pendidikan atau pejabat yang berwenang di Kantor Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.  

Sydney, 9 September 2007

Atas nama peserta Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI) 2007 

Ketua Panitia KIPI 2007

Casey Entoma

PPI – India                                           PPI Australia                                        PPI Italia

PPI Malaysia                                        PPMI Mesir                                         PPI Belanda 

Peserta Mahasiswa Jepang 

Keterangan Foto: Delegasi PPI Mancanegara berfoto bersama (ki-ka), M. Iqbal (Malaysia), Angela (Belanda), Berly M. (Italy), Talqis (Mesir), Dian (India), Faiz (India), dan Deddy (LIPI).

Advertisements

Overseas Indonesian Students Association Alliance

Pelajar Indonesia Luar Negeri Deklarasikan

“Aliansi Organisasi Pelajar Indonesia di Luar Negeri”

(Overseas Indonesian Students Association Alliance)

Merespon fenomena global intellectual diasporas  ratusan pelajar Indonesia dari Australia, India, Belanda, Malaysia, Jepang, Mesir, Indonesia dan Italia berkumpul di kampus University of New South Wales (UNSW), Sydney, pada tanggal 8-9 September 2007 dalam acara “Konferensi Internasional Pelajar Indonesia (KIPI) 2007”. Acara yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Persatuan Pelajar Indonesia Australia (PPIA) periode 2006-2008 ini mengangkat tema “Membangun Daya Saing Bangsa: Pulang atau Mengabdi dari Jauh”.  

Tingginya arus migrasi tenaga kerja berpendidikan dan berpengalaman dalam borderless world saat ini, baik dari dan ke dalam Indonesia, menjadi fokus perdebatan para mahasiswa yang hadir dalam konferensi tersebut. Untuk memanfaatkan penyebaran anak bangsa yang telah bekerja dan bermukim di luar negeri, peserta KIPI 2007 memandang perlunya dibentuk jaringan global tenaga kerja dan pelajar Indonesia. Dengan demikian, kekhawatiran akan terjadinya brain drain justru bisa dibalik menjadi sebuah potensi untuk mendatangkan brain gain seperti yang telah dilakukan oleh China dan India belakangan ini. Mengawali terbentuknya jaringan global komunitas Indonesia di luar negeri, para pelajar Indonesia dan utusan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) yang hadir dalam KIPI 2007 mendeklarasikan terbentuknya Aliansi Organisasi Pelajar Indonesia di Luar Negeri (Overseas Indonesian Students Associations Alliance/OISAA). Sebagai pelopor, aliansi ini diharapkan dapat memfasilitasi pertukaran informasi dan koneksi komunitas intelektual Indonesia yang tersebar di seluruh dunia.  

Dalam pertemuan dua hari tersebut, dihasilkan pula beberapa butir rekomendasi yang terkait dengan isu-isu peningkatan kualitas pendidikan, reformasi birokrasi, dan ketenagakerjaan Indonesia yang memiliki ketersinggungan dengan upaya peningkatan daya saing bangsa di pasar global. Rekomendasi tersebut disampaikan secara langsung oleh para peserta KIPI 2007 kepada Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, yang kebetulan berada di Sydney dalam agenda pertemuan para pemimpin negara-negara yang tergabung dalam APEC.  

Acara KIPI 2007 dibuka oleh Menpora Adiyaksa Dault dan ditutup oleh Menteri Lingkungan Hidup, Rachmat Witoelar. Dalam pertemuan ini 13 makalah riset mahasiswa yang terkait dengan tema utama konferensi dipresentasikan dan diskusikan untuk melihat bagaimana dan sejauh apa fenomena brain drain berdampak terhadap pertumbuhan dan pembangunan ekonomi negara serta bagaimana merumuskan paham nasionalisme baru yang lebih relevan dan kontekstual dengan kondisi kekinian. 

Pilihan dilematis untuk pulang atau mengabdi dari jauh yang menjadi tema utama pertemuan mahasiswa internasional terbesar ini disimpulkan sebagai pilihan yang tidak saling meniadakan (not mutually exclusive) karena kontribusi terhadap pembangunan bangsa dapat dilakukan dari dalam maupun luar batas teritori kekuasaan sebuah negara.

Keterangan Foto: Delegasi PPI-India, Usma Nur Dian Rosyidah (Delhi University), berjabat tangan dengan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, setelah disampaikannya Hasil dan Rekomendasi Konferensi.